Kerajinan Souvenir Di Nias, Sumatera Utara

0 642

Kerajinan Souvenir Di Nias, Sumatera Utara

Desa Bawomataluo merupakan desa adat yang berada di Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Desa sejuta pesona ini dikenal luas di seluruh nusantara, bahkan mendunia lewat atraksi lompat batu dan arsitektur rumah adatnya. Namun Bawömataluo sebenarnya tidak melulu identik dengan lompat batu dan rumah adat, sebab desa ini juga memiliki sejumlah pengrajin handal yang memproduksi souvenir khas Nias.

Para pengrajin ini tidak memiliki latar belakang pendidikan khusus di bidang seni kerajinan tangan. Namun kualitas hasil produksi mereka tak kalah bila dibandingan dengan daerah lain di luar Kepulauan Nias.

Beberapa jenis souvenir yang dihasilkan diantaranya patung tari perang, gantungan kunci, gelang dan kalung. Berbagai bahan dasar digunakan untuk membuat aneka jenis souvenir ini, mulai dari kayu sampai tanduk dan kulit penyu Harga termurah Rp 25 ribu dan termahal Rp 10 juta, tergantung jenis kerajinan dan bahan baku yang digunakan.

“Banyak pembeli protes soal harga. Kata mereka mahal. Kita jawab, karena proses pengerjaannya,” ujar salah seorang pengrajin souvenir, Fanosisi Manao.

Menurut Fanosisi,  proses pengerjaan kerajinan khas Nias memakan waktu lama dan bahan bakunya terkadang sulit didapat, seperti ikat pinggang yang terbuat dari kulit penyu dan aksesoris lainnya dengan bahan dasar yang sama. Kulit penyu atau biasa disebut goyo ini umumnya mereka peroleh dari Pulau Tello, namun bahan baku yang ada tidak sebanding dengan jumlah permintaan. Hal ini menjadi salah satu sebab kenapa harga barangnya menjadi mahal.

Selain kulit penyu, bahan baku lainnya yang juga sulit diperoleh adalah tanduk kerbau dan tanduk kijang. Para pengrajin enggan mengganti bahan-bahan baku tadi dengan bahan lain yang lebih mudah didapat karena salah satu ciri khas kerajinan Desa Bawömataluo terletak pada bahan bakunya.

Fanosisi menjelaskan, untuk pembuatan patung dan beberapa asesoris berbahan baku kayu, dirinya bersama pengrajin lain biasa memakai kayu afoa (sejenis kayu jelutung atau kayu minyak), kayu manawadanö, dan kayu berua, serta tempurung kelapa. Kayu-kayu ini adalah kayu yang banyak tumbuh di Kepulauan Nias, terutama di Desa Bawömataluo. Bahan baku kayu ini jelas lebih mudah ditemukan ketimbang kulit penyu atau tanduk hewan.

Fanosisi merupakan pengrajin yang memulai karir ukiran sejak tahun 1982 setelah belajar dari orang tua serta pengrajin lain yang lebih senior. Saat ini dia mengelola kelompok pengrajin beranggotaan 7 orang yang diberi nama KUB (Kelompok Usaha Bersama) Raizatua.

Source https://www.suaranusantara.com https://www.suaranusantara.com/geliat-pengrajin-souvenir-di-nias-selatan/
Comments
Loading...