Kerajinan Souvenir Kaktus Di Ngasem

0 243

Kerajinan Souvenir Kaktus Di Ngasem

Suasana di sebuah lorong kecil antara dua rumah di Jalan Mataram, Desa Karangrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, terasa sejuk dan asri. Ratusan kaktus mungil yang berjajar rapi diletakkan di rak-rak yang terbuat dari kayu.

Bukan hanya kaktus, di lorong itu juga terdapat beragam tanaman dan bunga. sekitar pukul 08.30 WIB hawa masih terasa sangat segar. Ditambah lagi, atap lorong yang berlapis plastik menghalangi sinar matahari masuk terlalu banyak sehingga teduh.

Memang tujuannya begitu. Kaktus-kaktus di bawahnya tak bisa terlalu banyak terpapar sinar matahari. ’’Ini masih sedikit, kami sebenarnya mau pesan lagi. Tapi, petaninya sudah menutup pesanan di sana,’’ terang Sendita Praswari, pengelola rumah hijautersebut.

Ragam kaktus di greenhouse itumilik kekasihnya, Ferry Dwi Aditya. Beberapa sudah dipesan pelanggan. Ada lebih dari 300 jenis kaktus berukuran mini yang terpajang dengan pot dan media tanah juga sekam.

Tak lama kemudian, Ferry datang menyapa. Keduanya adalah pemilik usaha suvenir yang terbuat dari kaktus. Sendi mengakui, usaha itu baru saja mereka mulai. ’’Belum ada setahun, jadi masih baru banget,’’ terang perempuan berambut panjang berusia 20 tahun tersebut.

Saat itu Ferry dan Sendi memikirkan apa yang bisa dilakukan berdua agar waktu tak terbuang sia-sia. Kemudian, mereka melihat kemampuan masing-masing.

Sendi adalah mahasiswa jurusan keuangan di salah satu universitas swasta di Kediri, sedangkan Ferry merupakan mahasiswa akhir jurusan pertanian di universitas yang sama. ’’Saat itu kebetulan saya kuliah juga sambil kerja,’’ terang Ferry.

Dia bekerja sampingan di salah satu perusahaan swasta terbesar di Kediri di bagian taman. Ketika mengerjakan tugas akhir, Ferry sering izin dan hampir kena surat peringatan (SP) dari tempat kerjanya.

Karena itulah, dia kemudian mulai memikirkan usaha apa yang bisa dikerjakan kalau-kalau dipecat. ’’Saya mikir-nya nanti kalau dipecat bayar kuliah pakai apa,’’ucap pria 23 tahun tersebut.

Dalam keadaan seperti itu, Ferry pun memikirkan usaha yang sesuai dengan kesukaan dan keahliannya. Kebetulan dari awal pacaran, Ferry tahu bahwa Sendi penggemar tanaman kaktus. ’’Kalau main ke Malang, pasti yang dicari kaktus,’’ungkap pemuda yang juga bertempat tinggal di greenhouse tersebut.

Sendi menambahkan, dia juga suka hal-hal yang berbau kerajinan tangan. Hingga terciptalah ide membangun usaha suvenir dari kaktus.

Mereka berdua kemudian berburu tanaman kaktus ke Malang. Namun, ternyata di sana mereka tak menemukan petani kaktus. ’’Orang Malang nggak ada yang budidaya, mereka ambil dari petani Lembang,’’ terang mahasiswi asli Purwokerto, Ngadiluwih, itu.

Kemudian, mereka pun mencari informasi tentang petani kaktus di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Setelah dapat, kini petani tersebut menjadi tempat keduanya menyetok kaktus. ’’Ferry juga sudah pernah ke Lembang langsung. Disana tak hanya beli,tapi juga diajari budidaya,’’ terang Sendi.

Setelah mendapatkan ilmu budidaya kaktus, Ferry berencana membudidayakannya sendiri. Saat ini dia bekerjasama dengan temannya di Plosoklaten untuk budidaya itu.

Selama ini kendalanya adalah lahan. Saat banyak pesanan, dia tak bisa langsung mengiyakan.Sebab,untuk memesan kaktus kepada petani Lembang, mereka harus menunggu tiga bulan.

’’Kemarin ada yang pesan 500 kaktus buat suvernir pernikahan. Tapi, kami nggak bisa karena stok nggak memenuhi. Kalau pesan petani, tiga bulan baru bisa diantar barangnya,’’ paparnya.

Karena itulah, Ferry sangat terdorong untuk membudidayakan kaktus sendiri. Berbekal ilmu pertanian dari kampus juga praktik di tempat kerja serta pelatihan di Lembang, dia optimistis berhasil.

Kaktus-kaktus milik Ferry dan Sendi dijual dengan bermacam bentuk. Ada yang dijual langsung tanpa dihias, ada pula yang dihias. Hal tersebut bergantung momen.

Misalnya,Lebaran seperti saat ini pembeli lebih suka membeli kaktus tanpa hias.Tetapi, kaktus itu diletakkan dalam rak besi dengan beberapa lubang bertingkat yang diisi beberapa pot. ’’Kalau Lebaran, biasanya orang pesan yang kayak gitu untuk mempercantik ruang tamu atau teras rumah,’’jelas Sendi.

Selanjutnya, untukevent seperti Natal, dia lebih banyak melayani pesanan kaktus hias. Dia biasanya memakai kaktus yang berduri putih, panjang, dan halus seperti rambut orang tua. Sendi kemudian memasangi mata palsu dan kain flanel merah yang dikreasikannya menjadi baju kaktus tersebut. Dia juga pernah mendapatkan pesanan kaktus dari cowok untuk melamar ceweknya.

Sampai sekarang, kaktus-kaktus buatannya terjual sampai ke luar Jawa. ’’Pernah kami dapat pesanan ke Palembang, Bali, dan kota-kota lain,’’ tambah Sendi.

Namun, pengiriman ke luar pulau dirasa menjadi kesulitan tersendiri karena mereka harus mengantongi izin mengirim tanaman dari kantor karantina tanaman di Sidoarjo. ’’Jadi, tiap mau kirim harus dibawa dulu ke Sidoarjo baru punya surat izin. Kalau sudah begitu, jasa pengantar baru mau kirim,’’ungkap Ferry.

Menurut Ferry dan Sendi, tanaman kaktus tak hanya berfungsi sebagai tanaman hias. Namun juga memiliki kemampuan menyerap polutan baik di dalam maupun di luar ruangan. Kaktus juga ada yang berharga mahal. Biasanya, kolektor-kolektor kaktus yang mencarinya.

Jenisnya pun berbeda dan susah dibudidayakan. ’’Kaktus termahal yang pernah saya lihat itu kaktus berwarna merah seharga Rp 30 juta,’’kata Ferry.

Source https://www.jawapos.com https://www.jawapos.com/features/04/07/2017/sendita-dan-ferry-dwi-mahasiswa-yang-rintis-bisnis-kreasi-suvenir-kaktus
Comments
Loading...