Kerajinan Sulam Di Yogyakarta

0 377

Kerajinan Sulam Di Yogyakarta

Menyulam adalah kegiatan kerajinan tangan yang mungkin sekarang dianggap kuno dan mulai ditinggalkan. Teknik pembuatannya yang memakan waktu lama, tenaga ekstra, dan kesabaran yang tinggi membuat sulam tangan seakan tak memiliki daya tarik.
Walau demikian, di Yogyakarta masih ada perempuan yang menekuni kerajinan itu. Bahkan ia menularkan pada anak-anak muda dan ibu rumah tangga melalui komunitas yang didirikannya yaitu Seven Needles. Kristi Harjoseputro namanya. Ia adalah seorang perempuan kelahiran 25 Desember 1956 keturunan Belanda-Solo yang sejak kecil sudah dibiasakan menyulam oleh ibunya.
Kristi sangat gigih mengajarkan sulam pada anak-anak muda. Sebab ia ingin kerajinan itu bersemi kembali dan menjadi kegiatan pengisi waktu luang. “Tak hanya mampu menghasilkan produk yang cantik, menyulam juga mampu mengajarkan seseorang untuk dapat bersabar dan teliti,” tuturnya. Dari berbagai jenis sulaman, Kristi paling menyukai sulaman satin dan rantai. Hasil sulaman-sulaman itu ada yang ia koleksi sendiri, ada pula yang dijual kepada saudara dan rekanannya. Ia juga melayani jasa sulam dan sejauh ini ongkos menyulam termahal yang ditanganinya mencapai Rp 3 juta.
Banyak hal yang tak dapat ia lupakan selama berkecimpung di dunia sulam. Mulai dari jari tertusuk jarum sampai membongkar lagi hasil sulaman karena ada jahitan salah atau karena anak menilai warnanya kurang bagus.
“Tapi yang paling menarik adalah saat benang diodol-odol [dirusak] anjing kesayangan. Mau marah juga enggak tega karena itu anjing kesayangan saya,” ujar ibu dua anak yang tinggal di kawasan Pogung Sleman ini.
Saat itu, Kristi akan mengerjakan pesanan sulam dari kakaknya. Seperti biasa, ia mempersiapkan peralatan dan perlengkapannya terlebih dahulu, seperti kain, pola, jarum, dan benang. “Saya tinggal sebentar, benang-benangnya sudah hancur digigit anjing. Ya akhirnya harus keluar uang dua kali buat belanja benangnya,” ungkap wanita yang senang mendengarkan musik ini. Tetapi pengalaman-pengalaman itu tak menyiutkan kecintaan dan kegemarannya pada sulam. Justru hal itu menjadi bagian dari proses belajar untuk menjadi pribadi yang semakin sabar. Walau sudah memasuki usia senja, namun Kristi masih semangat melatih sulam pada masyarakat di berbagai daerah di Indonesia, salah satunya Jayapura. Selain menerima panggilan untuk melatih sulam, Kristi juga bercita-cita memiliki studio sulam yang lengkap di rumahnya agar memudahkan masyarakat yang ingin belajar sulam padanya.
Source https://kumparan.com/ https://kumparan.com/tugujogja/perempuan-ini-terus-lestarikan-kesenian-sulam-yang-mulai-redup
Comments
Loading...