Kerajinan Sulaman Di Padang Pariaman

0 395

Kerajinan Sulaman Di Padang Pariaman

Berprofesi sebagai guru dan pernah menjadi pengrajin sulaman, Fitrinawati, bercita-cita meningkatkan penghasilan dan sumber daya manusia (SDM) pengrajin sulaman di sekitar rumahnya. Penghasilan meningkat dengan berproduksi sulaman secara terus menerus. Peningkatan SDM dalam bidang kualitas sulaman, mam­pu mengenali sejarah dan jenis sulaman, dan ke­mampuan melakukan pro­mosi dalam pemasaran.

Cita-cita tersebut dibuk­tikannya dengan mendirikan usaha sendiri pada 2003 de­ngan merek dagang “Sulaman Indah Mayang”. Usaha in­dustri rumah tangga di Desa Padang Birik Birik, Pariaman Utara, Kota Pariaman itu saat ini memperkerjakan 25 orang, yang sebagian besar merupakan ibu rumah tangga dengan keahlian yang ber­beda, seperti sulam benang emas, sulam mato samek, dan sulam suji.

Menjadikan salendang balapak sulam kapalo samek sebagai produk unggulan, Sulaman Indah Mayang diba­ngun dari kondisi nol. Be­berapa langkah dilakukan Fitri agar usaha sulaman bisa menjadi usaha yang bisa meng­hidupi orang banyak.

Memulai dengan mem­buat sendiri selendang bala­pak sulam kapalo samek se­kitar lima helai, Fitri mela­kukan promosi kepada teman kerja di sekolah dan sanak famili di rantau, termasuk mendatangi rumah yang dike­nalnya saat belanja di pasar atau bertemu di suatu tempat.

“Selendang yang saya buat sendiri langsung saya per­lihatkan dan tawarkan kepada teman-teman. Mereka malah mangajak untuk datang ke rumah saat bertemu di jalan agar bisa melihat selendang yang saya buat,” cerita Fitri­nawati.

Selendang sulaman Fitri tersebut sangat menarik dan laku semua. Ketika pesanan mulai datang, Fitri mencari tambahan modal dengan pro­gram binaan. Sejak mendapat binaan dari perusahaan besar, seperti Jamsostek dan Tel­kom, dan perbankan, Su­laman Indah Mayang mulai berkembang, tidak hanya dari jumlah tenaga kerja, tetapi juga jumlah produksi dan kualitas produknya.

Fitri menceritakan, lang­kah berikutnya adalah mem­promosikan produk dengan skala yang lebih besar. Pro­mosi tidak hanya melalui rumah ke rumah, tetapi juga rajin mengikuti pameran. Hampir separuh daerah di Indonesia sudah dijajaki Fitri melalui pameran. Termasuk juga melakukan pameran di negara tetangga, seperti Ma­lay­sia dan Singapura. Ia me­ngikuti pameran itu dibawa dan dibiayai oleh Dinas Ko­perindag Kota Pariaman dan Dinas Koperasi dan UMKM Sumatera Barat, serta BUMN

Membuat usaha yang meng­hasilkan produk, sam­bung Fitri, kendala pada umumnya berkisar pada mo­dal, sulit mencari tenaga kerja yang bisa menyulam, dan promosi pemasaran. Namun, berkat turut sertanya Dinas Koperindag Kota Pariaman, beberapa kendala bisa diatasi, seperti diadakannya pelatihan menyulam kepada 60 orang yang difasilitasi oleh Dis­ko­perindag Kota Pariaman dan Badan Diklat Sumbar.

“Ada program pelatihan dari Balai Diklat Industri Sumbar untuk UMKM. Ka­rena keterbatasan anggaran, Diskoperindag Kota Paria­man memberikan reko­men­dasi yang dikeluarkan Wali­kota Pariaman dan mem­fasilitasi pelatihan dengan peserta 60 orang,” kata Syaful Azman, Sekretaris Disko­perindag Kota Pariaman di toko Sulaman Indah Mayang.

Proses pembuatan selen­dang bisa memakan waktu 40 sampai 60 hari. Dengan biaya pembuatan Rp400 ribu, ten­tunya tidak mencukupi ke­butuhan harian. Rentang har­ga selendang dengan baju penganten dari Rp2,5 juta sampai Rp5 juta, tergantung motif dan modelnya. Sedang­kan khusus selendang, mulai Rp250 ribu hingga Rp2,5 juta. Omzet yang diperolehnya setiap bulan rata-rata sebesar Rp18 juta.

Source https://www.harianhaluan.com https://www.harianhaluan.com/news/detail/53936/industri-sulaman-hasilkan-rp18-juta-sebulan
Comments
Loading...