Kerajinan Suling Bambu Di Bali

0 580

Kerajinan Suling Bambu Di Bali

Suling atau seruling, di Bali dibuat dari bambu jajang. Bambu yang tipis dan jarak tiap bukunya sangat panjang. Bambu jenis ini banyak tumbuh di ketinggian 600 meter diatas permukaan laut. Di Desa Kerta Payangan Bali, bambu jajang tumbuh dengan baik karena kesuburan dan kesejukannya cocok untuk habitatnya. Ketut Sami, penduduk asli Kerta itu telah lebih dari separuh umurnya dihabiskan untuk mengakrabi bambu jajang, dia berprofesi sebagai pembuat suling bambu.

“Awalnya ketika remaja saya cuma menonton tarian yang diiringi seruling bambu, karena tiap hari akrab dengan tetangga dan keluarga yang membuat seruling saya keterusan ikut membuat juga memainkan suling,” tutur ibu 3 anak ini. Berawal dari menonton tari semaradana, yang diiringi suling mendayu dayu,Sami pelahan mengikuti garis keturunan dari sang kakek yang kala itu suhu dalam pembuatansuling. Sami remaja memulainya dengan cara memilih bahan suling yang bagus. Dia diajak kakeknya masuk hutan yang kala itu masih tumbuh lebat di belakang kampungnya.

Yang paling baik untuk suling adalah bambu yang kering ditempat bukan yang ditebang terlebih dahulu baru dikeringkan. Menurut Sami ini diperlukan agar ketika dibuatkan lubang sebanyak 6 buah di badan seruling itu bambu tidak gampang pecah. Bambu kering bisa ditandai dengan seluruh daun dan rantingnya menguning sedangkan bambu yang ketika muda berwarna hijau berubah menjadi berwarna coklat muda saat tepat untuk di panen untuk dijadikan suling.

Kakeknya mengajarkan, bambu yang bagus untuk suling bambu yang ketika di potong sudah mengeluarkan bunyi merdu, artinya kekeringannya sudah baik. Selain kerumitan menentukan kekeringan bambu, mengatur jarak tiap lubang di badan suling juga menentukan selain ketepatan pemasangan siwernya.

Siwer biasanya dibuat dari bambu juga. Tapi bukan bambu buluh, Sami menyebutnya dengan bambu petung. Jenis bambu tebal yang bila diiris tipis bisa dijadikan tali untuk mengikat atap bangunan atau mengikat kayu api. Bambu untuk siwer biasanya berlapis sampai 3 untaian. Ketebalannya ikut menentukan mutu suara. Sami biasanya memperlakukan pemasangan siwer suling ini seperti pelukis yang akan membubuhkan tanda tangan di setiap karyanya.

Untuk membuat sebuah suling yang bagus setidaknya diperlukan waktu seminggu. Tiga hari untuk berburu bambu, dua hari untuk memotong dan membuat lubangnya dan dua hari lagi untuk menyetem siwer dan menghaluskan suling yang akan siap dijual ke toko seni, ke galery atau ke pemesan lain yang biasanya dari kalangan penabuh gamelan atau pemain musik.

Setelah seminggu berkutat dengan kesibukan yang melelahkan itu Sami biasanya akan istirahat seharian sebelum pada hari berikutnya bersiap berjualan keliling. Mulai dari Ubud dan Sukawati dan tempat lain di Bali yang dia rasa ada penggemar sulingnya.

Di kediamannya yang asri dan teduh di Kerta Payangan kita bisa melihat tumpukan bambu yang siap untuk digarap jadi suling. Sekitar 5 tumpuk dibiarkan terjemur dibawah terik matahari. Untuk setiap suling yang dibuat dengan segenap tenaga dan konsentrasi itu dia cuma memasang tarip Rp 15.000 untuk suling kecil, Rp 25.000 untuk ukuran sedang yang terbesar mencapai Rp 50.000. Di pasar seni kadang dia bisa menjual 10 suling ukuran besar, 15 ukuran sedang dan lebih banyak lagi yang ukuran kecil.

Akhir ini ini ada yang memprihatinkan Sami yakni datangnya serbuan alat musik tiup yang terbuat dari bahan ringan seperti fiber dan plastik serta ebonit yang lebih kuat dan praktis. Padahal alat musik tiup pabrikan macam itu kurang dari sisi keelokan bentuk dan artistiknya, juga suaranya monoton dan kurang variasi. Berbeda dengan seruling bambu yang setiap lekukannya menonjolkan nilai seni tinggi.

Source https://www.kompasiana.com https://www.kompasiana.com/budiartha/wanita-pembuat-seruling_552fe06b6ea8347c548b45e3
Comments
Loading...