Kerajinan Suling Bambu Di Purwakarta

0 304

Kerajinan Suling Bambu Di Purwakarta

Suara serpihan bambu yang diserut, terdengar samar-samar. Meski demikian wangi bambu tersebar ke seluruh ruangan-ruangan yang sedikit tersekat. Suara melengking terdengar sesekali. ‎Suara tersebut adalah suara seruling bambu yang dibuat dadakan. Walaupun dadakan nyatanya suara seruling ini kelas wahid, melengking namun bersih terdengar.

Seruling bambu ini adalah buatan Rahmat Djunaedi yang akrab disapa Abah Djudju. Seruling ini pun kini amat mudah untuk didapat. Setiap harinya Abah Djudju mempunyai lapak khusus di pojokan Galeri Wayang, Pemkab Purwakarta. Di lapak itulah dia bekerja sebagai pembuat seruling.

Setiap harinya beberapa seruling jadi dibuatnya, kadang dijual atau kadang hanya sebagai pelengkap penuhnya lapak Abah Djudju. Dalam sehari setidaknya minimal 3 buah seruling dibuat warga Darangdan, Kabupaten Purwakarta ini.

“Saya khawatir lama kelamaan, seruling bambu akan punah. Padahal ini warisan budaya yang harus dilestarikan. Anak-anak muda pun kini tak pernah ada yang mau belajar memainkannya,” ucap Abah Djudju, di lapak khususnya tersebut, di Galeri Wayang, Pemkab Purwakarta.

Menurut Abah Djudju, yang dikhawatirkannya lagi adalah jarangnya seniman atau perajin seruling di Jawa Barat. “Siapa lagi nanti yang menjadi penerus untuk membuat seruling bambu. Cepat atau lembat kalau tidak dilestarikan, alat musik ini bisa hilang,” katanya.

Di sisi lain, Abah Djudju juga melihat faktor kelangkaan bahan baku utama pembuatan suling bambu yaitu awi tamiang menjadi masalah tersendiri. Khususnya dalam rangka melestarikan alat musik tradisional tersebut.

Lelaki tua ini berpendapat kelangkaan tersebut diakibatkan banyaknya lahan yang ditumbuhi awi tamiang diubah. Rata-rata lahan ini kata Abah Djudju diubah menjadi lahan penanaman singkong maupun pohon pisang.

Source http://www.pikiran-rakyat.com http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2017/11/27/lestarikan-suling-bambu-jangan-sampai-punah-414682
Comments
Loading...