Kerajinan Suntiang Di Solok

0 321

Kerajinan Suntiang Di Solok

Banyak orang mengenal ‘suntiang’, tetapi hampir tidak ada orang yang tahu siapa yang membuat, dimana, dan bagaimana suntiang tersebut dibuat.

Suntiang adalah hiasan kepala pengantin perempuan di Minangkabau atau Sumatra Barat. Hiasan yang besar warna keemasan atau keperakan yang khas itu, membuat pesta pernikahan budaya Minangkabau berbeda dari budaya lain di Indonesia. Tak hanya perbedaan bentuk dan ornamen, memakai suntiang kerapkali juga salah satu yang ditakutkan calon pengantin perempuan Minang.

Suntiang yang beratnya bisa mencapai 3,5 kg dan mesti dikenakan di kepala selama pesta berlangsung umumnya sehari-semalam, membuat si calon pengantin perempuan yang disebut ‘anak daro’ was-was dan cemas akan tidak sanggup menjalankannya.

Apalagi pada zaman dulu. Suntiang yang besar itu, bahkan beratnya sampai 5 kg dan ada juga yang terbuat dari emas, dibuat tidak seperti sekara sedang merangkai suntiang dari mansi di rumahnya di Kampung Pisang, Solok yang bisa dibongkar-pasang bagaikan topi. Tapi betul-betul dipasang setangkai demi setangkai dengan menancapkannya di gulungan rambut.

Pesta pernikahan orang Minang yang terkadang juga dilakukan perantau di daerah lain di Indonesia, membuat suntiang dikenal banyak orang. Salah satu perajinnya adalah Amzon.

Meski begitu, tak ada yang tahu di mana tempat membuat suntiang, termasuk umumnya orang di Sumatera Barat. Jika ditanya, mereka pasti menunjukkan suntiang dibeli di Kota Bukittinggi.

Memang, Bukittinggi terkenal sebagai tempat penjual suntiang dalam berbagai bentuk dan ukuran. Umumnya biro tata rias anak daro di seluruh Sumatera Barat, bahkan di luar provinsi itu, termasuk Jakarta membeli suntiang ke toko-toko di Bukittinggi.

Tapi, suntiang sendiri sebenarnya dibuat sekelompok perajin di Kampung Pisang, Kecamatan Empat Koto, Kabupaten Agam. Sayang, hal ini tak banyak diketahui orang.

“Pemesan hanya tahu dari Bukittinggi, hampir tidak ada pembeli yang ke sini selain pemilik toko di Bukittinggi, mungkin karena tempat ini jauh dan tidak terletak di jalan raya,” kata Amzon yang biasa dipanggil Jon, 49 tahun, salah seorang perajin suntiang di Kampung Pisang ketika dikunjungi PadangKini.com beberapa waktu lalu.

Padahal, kata Jon, pemesan suntiang tak hanya dari daerah-daerah di Sumatera Barat, tapi juga dari Jakarta, Riau, Jambi, dan Sumatera Utara. Bahkan ada pula yang memesan bukan suntiang minang, melainkan sunting batak, adat pelembang, dan sunting adat Malaysia.

Ada tiga keluarga perajin suntiang di Kampung Pisang yang masih aktif sampai sekarang. Selain Jon yang bekerja dibantu dua putra dan seorang adik perempuannya, juga ada keluarga Edi dan Asril.

Suntiang sendiri dirangkai menggunakan kawat ukuran satu perempat yang dipasang pada kerangka seng aluminium seukuran kepala. Pada kawat itu dipasang sedikitnya lima jenis hiasan. Kelima hiasan itu dinamakan suntiang pilin, suntiang gadang, mansi-mansi, bungo, dan jurai-jurai. Besarnya sebuah suntiang diukur dengan jumlah mansi atau kawat. Suntiang paling besar ukurannya 25 mansi, kemudian 23 mansi, dan 21 mansi yang paling umum dipakai saat ini.

Ada juga suntiang yang lebih kecil yang biasa dipakai pelajar untuk ikut karnaval peringatan 17 Agustusan dan acara lainnya. Itu ukuran 19 mansi untuk siswi SLTA, 15 mansi untuk SLTP, dan 13 mansi untuk SD, dan 9 mansi untuk Taman Kanak-kanak. Suntiang yang dibuat juga dibagi tiga jenis berdasarkan bahan. Yang lebih berat dan mahal yang masih dibuat saat ini terbuat dari mansi padang (sejenis seng aluminium kuningan). Kemudian mansi kantau atau biasa, dan yang sekarang mulai banyak dipakai, terutama untuk pelajar, suntiang dari plastik yang jauh lebih ringan.

Selain itu ada juga asesoris suntiang yang sebagian berbahan kuningan dan tembaga. Asesoris ini biasanya dibuatkan oleh perajin khusus yang juga di Kampung Pisang.

“Biasanya yang dari mansi padang dijual Rp3,75 juta per kodi, mansi biasa Rp 3 juta, dan plastik Rp2 juta per kodi kepada pemilik toko, di toko dijual Rp25 ribu hingga Rp75 ribu lebih mahal per buah,” katanya.

Source https://relawandesa.wordpress.com https://relawandesa.wordpress.com/2009/04/07/kampung-perajin-suntiang-yang-terlupakan/
Comments
Loading...