Kerajinan Tampah di Pekalongan

0 178

Kerajinan Tampah di Pekalongan

Sentra produksi alat rumah tangga berupa Tampah dan Cepon di Dukuh Pangukuhan, Desa Podosari, Kecamatan Kesesi, mengalami kendala dalam proses pemasaran. Padahal sentra produksi tersebut merupakan satu satunya yang ada di Kota Santri.

Untuk diketahui, pembuatan tampah dan cepon tersebut sebagai aktivitas sampingan warga sekitar. Namun tak sedikit dari mereka juga sebagai penghasilan utama warga Desa Podosari, Kecamatan Kesesi. Penggunaan alat rumah tangga yang akhir-akhir ini sudah tergerus oleh era modern tersebut.

Salah seorang pembuat tampah, Casiem, warga Rt 13/ 06 Dukuh Pangukuhan, Desa Podosari, Kecamatan Kesesi, mengutarakan bahwa dalam sehari pembuatan tampah belum tentu jadi. Sebab pembuatan melibatkan beberapa tangan yang hanya dikerjakan oleh bidangnya masing- masing.

Diakui, untuk pembuatan bahan didapat dari kulit reyeng yang dibeli selingget (paket). Saat menjadi tampah dihargai Rp 4.000. Kemuduan pembuatan Eblek dihargai Rp 4000, Blengker Rp 3000, buruh jejet Rp 3000, Tali jejet Rp 3000, kemuduan finising atau setel tampah Rp 3000.

“Satu tampah jadi itu paling tidak modaknya Rp19.000, kemudian kita jual ke penampung hanya Rp 25 ribu tiap tampah. Jadi hadilnya bisa dihitung sendiri tak seberapa hanya Rp 6000. Tapi bagi kami ya…Alhamdulillah bisa untuk tambahan uang saku sekolah anak atau jajan,” terangnya.

Menurutnya, para pembuat tampah dan dunak akhir- akhir ini mengalami kendala dalam pemasaran. Karena untuk harga saat ini di penampung masih rendah. Kalaupun ada yang mau menjual keliling, terkendala pada cuaca.

Sementara Kepala Desa Podosari, Kecamatan Kesesi, Nurcahyo, membenarkan bahwa saat ini untuk pemasaran tampah atau dunak tidak seperti era tahun 1990-an. Karena masyarakat sudah banyak yang menggunakan pengganti tampah.

Meski demikian, pemerintah desa tetap akan mensuport perajim tampah atau dunak sehingga bisa memberikan hasil lebih. “Kita wacanakan tempat ini sebagai sentra kerajinan tempat atau alat rumah tangga. Karena inilah sebagai produk unggulan warga kami yang memang tidak bisa dilakukan oleh desa lain, dan kami berharap juga ada perhatian dari pemerintah daerah untum bisa menjembatani bagaimana cara memasarkan produk lokal ini,” harapnya.

Source http://radarpekalongan.co.id http://radarpekalongan.co.id/23527/perajin-tampah-terkendala-pemasaran/
Comments
Loading...