Kerajinan Tangan Karya Lembaga Pembinaan Khusus Anak Di Palembang

0 149

Kerajinan Tangan Karya Lembaga Pembinaan Khusus Anak Di Palembang

Suasana halaman depan LPKA Pakjo terlihat sepi. Hanya ada beberapa unit kendaraan tengah parkir. Koran ini lalu masuk lewat pintu depan berukiran khas Palembang berukuran 3×2 meter. Di sana terdapat enam petugas mengenakan seragam kedinasan. Mereka memeriksa satu persatu warga yang berkunjung membesuk warga binaan.

Di sana justru suasana asri tanaman hijau dan kolam ikan layaknya taman rumah sendiri. Di sisi kiri, terdapat ruangan kantin. Ada penghuni yang tegak duduk bercerita dengan keluarga. Tak ada rasa ketakutan atau malu di wajah mereka. Mereka seperti sudah menerima kehidupannya di dalam LPKA. “Mari kami antar ketemu Pak Fuad,” kata petugas kepada koran ini.

Di dalam ruangan 4×7 meter tepat di sebelah musala terdapat kerajinan tangan dari koran. Di sana ada pas bunga, keranjang minuman, dan peralatan kerajinan seperti gunting, lem, lidi dan pernis serta kuas. Beberapa anak-anak tampak sibuk menggulung bekas koran. “Lagi buat bahan untuk kerajinan,” kata salah satu anggota kerajinan, Ferdian.

Dia mengatakan, kerajinan di LPKA ini sudah ada sejak 2016 lalu. Tapi dia baru ikut kegiatan tambahan ini akhir tahun lalu. “Keikutsertaan saya karena ingin habiskan waktu luang selama di LPKA dengan hal-hal positif. Dikatakan, sebelum membuat kerajinan ini dirinya mengikuti pelatihan selama satu minggu.
Proses terbilang mudah. Pertama mulai dari koran dipotong-potong, kemudian digulung panjang menggunakan bantuan lidi, sehingga membentuk gulungan panjang dan tipis. Setelah itu dilem. “Ini tahap awal membentuk pola,” terangnya.

Selanjutnya, kata dia, dirangkai sesuai keinginan untuk dibentuk menjadi keranjang. Baru dikeringkan dan dipernis untuk mempercantik tampilan. “Proses pembuatan pola kerajinan dua jam. Tapi kalau sampai jadi, butuh waktu dua hari. Yang lama proses finishing berupa pernis,” tuturnya.

Sejauh ini, lanjut dia, kerajinan yang dibuat sudah sering dipamerkan di berbagai event seperti Hari Kemerdekaan, kunjungan Bhayangkara, dan lainnya. “Respon pengunjung saat pameran cukup baik dan banyak juga yang laku. Produk yang paling diminati adalah keranjang,” ungkapnya.

Dikatakan, setelah tidak menghuni lapas, dia sendiri berencana menekuni dan menjadikan keahlian ini sebagai ladang usaha. Tentunya ia pun akan rajin mengikuti berbagai pelatihan. “Insya Allah kami akan lanjut kan untuk ditekuni dan dikembangkan,” ungkap pria yang aktif mengikuti di tim pencak silat.

Sementara itu, warga binaan lain Mimin mengaku masuk LPKA Pakjo karena kasus narkotika sejak 2013 lalu. Dari berbagai kegiatan yang ada, ia memilih aktif di pembuatan kerajinan dan program editing-line art. “Ilmu yang didapat dari pelatihan selama di sini digelar Palcomtech.”

Dirinya tertarik pada dunia audiovisual karena line art dan editing sangat menarik, menantang dan tak monoton. Apalagi sebelumya, dirinya pernah melakoni dunia ini. Mimin pernah ikut les, di sini dapat ilmu baru lain seperti pop art, editing, resin wpap line art. “Hobinya memang editing. Jadi kalau gak ada kerjaan sering ngedit foto.”
Tidak hanya itu, masih kata Mimin, dirinya juga aktif menulis puisi dan bermain futsal. “Kalau futsal sering tanding keluar mewakili Lapas. “Semoga setelah keluar dari lapas ini bisa terus aktif dan mendapatkan banyak hal positif lainnya,” tukasnya.

Source http://sumeks.co.id http://sumeks.co.id/bikin-banyak-kerajinan-jual-saat-event/
Comments
Loading...