Kerajinan Tanjak Di Kota Siak

0 198

Kerajinan Tanjak Di Kota Siak

Tanjak akhir-akhir ini menjadi tren baru di Kabupaten Siak. Setiap hari, pengrajin tanjak lokal di pasar seni Kesturi dibuat kerepotan dengan ramainya pesanan yang datang. Ikat kepala khas orang Melayu itu menjadi populer setelah orang nomor satu Negeri Istana, Bupati Syamsuar menerapkan kebijakan pemakaian tanjak dikalangan Aparatur Sipil Negara (ASN).

Tanjak dianggap lambang kewibawaan dikalangan masyarakat Melayu. Semakin tinggi dan kompleks bentuknya, menunjukkan semakin tinggi pula status sosial sipemakainya.  Menurut Zulkifli ZA tanjak biasa dipakai masyarakat Melayu di seluruh lapisan strata sosial, baik dilingkungan kerajaan kalangan bangsawan maupun masyarakat awam.

“Begitu meninggalkan rumah, orang Melayu biasa mengenakan tanjak. Fungsinya sebagai penutup kepala dari gangguan udara maupun ranting. Awalnya berbentuk ikat biasa, namun oleh oleh orang Melayu dahulu yang aktif dibidang gerak tangan muncul kreasi bentuk dengan nama tebing runtuh, belalai gajah, pial ayam, elang menyongsong angin dan lain sebagainya”, kata Zulkifli.

Sayangnya kata pria yang lama bergelut dengan kesenian dan kebudayaan melayu Riau ini, beberapa nama ikat di zaman kerajaan tersebut bentuknya sudah sulit ditemukan. Bentuk-bentuk tanjak disebut juga dengan ikat, misalnya ikat sebelit. Ikat elang menyongsong angin ini kata dia, melambangkan kebijaksanaan dan kecermatan elang memainkan gerak angin, sementara ikat hang tuah melambangkan ketegasan. Sementara untuk warna sebut Zulkifli, tanjak adat biasanya berwarna hitam, dan untuk pengantin disesuaikan dengan pakaian.

Terkait kebijakan Bupati Siak yang menggagas pemakaian tanjak dilingkungan ASN, Zulkifli memberikan dukungan penuh. Sebab kata dia pada dasarnya pemakaian tanjak dan baju Melayu akan memberikan kewibawaan dan dampak psikologis bagi pemakainya.  Namun demikian ia mengingatkan agar pemakaian tanjak dilingkungan ASN tersebut tetap disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan adat berlaku.

Sementara Bupati Siak Syamsuar mengatakan, tanjak ini digalakkan untuk menghidupkan kembali identitas kebudayaan Melayu di tengah masyarakat. Sebelumnya gerakan berbusana dan berbahasa melayu sudah diterapkan di Kabupaten Siak. Datuk Setia Amanah Kabupaten Siak itu juga mengatakan, gerakan bertanjak ini adalah salah satu cara untuk mempopulerkan kembali kebudayaan Melayu.

Source http://www.riau24.com http://www.riau24.com/berita/baca/68361-sejak-tanjak-jadi-trend-para-pengrajin-lokal-di-siak-kebanjiran-pesanan/
Comments
Loading...