Kerajinan Taplak Meja Dari Tenun Lidi Di Yogyakarta

0 264

Kerajinan Taplak Meja Dari Tenun Lidi Di Yogyakarta

Seluruh bagian pohon kelapa memang bernilai guna. Selain buah, daun dan batang, lidi atau tulang daun kelapa bisa diolah menjadi kerajinan bernilai ekonomis. Lidi bisa ditenun menjadi tikar, suvenir, boks pakaian, dan juga taplak meja yang laku di pasar luar negeri. Perajin tenun lidi bahkan mampu meraup omzet hingga Rp 150 juta per bulan.

Produk lidi ternyata tidak hanya bisa diolah menjadi sapu atau tusuk satai saja. Lidi atau tulang daun kelapa itu juga bisa disulap menjadi kerajinan menarik yang unik, dan diminati konsumen di pasar domestik maupun internasional. Namun, untuk membuat kerajinan menarik dari lidi itu butuh kreativitas, seperti yang dilakukan Eko Rudiyanto. Lewat bendera KREA di Bantul, Yogyakarta, Eko mengubah lidi menjadi aneka kerajinan tenun nan unik.

Eko sudah melakoni usaha pembuatan kerajinan lidi sejak 2002 lalu. Berkat ketekunan dan keuletannya, Eko bisa memasarkan produk itu hingga ke Belanda, Prancis, Italia, Arab, Qatar, Turki, Malaysia, dan Singapura.  Dalam memproduksi, Eko menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) tradisional. Alat itulah yang kemudian mengantarkan Eko mampu mendapatkan omzet hingga Rp 150 juta per bulan.

Omzet itu ia peroleh dari pengiriman 8.000-10.000 unit placemates dan tikar lidi tiap minggu ke berbagai negara. Harga jual dari setiap produk itu mulai dari Rp 3.500 per unit sampai Rp 55.000 per unit, tergantung dari besar kecilnya ukuran dan tingkat kerumitan dari masing-masing produk.

Produk yang paling murah dibuat oleh Eko adalah jenis taplak meja ukuran 35 centimeter (cm) x 45 cm. Sedangkan untuk produk yang paling mahal adalah tikar lidi berukuran 45 cm x 10 meter (m). Dengan mempekerjakan 170 orang, dalam seminggu Eko bisa memproduksi 10.000 placemates serta 300-350 roll tikar. Eko menghitung, untuk pengerjaan satu unit tikar, dibutuhkan satu karyawan yang bekerja dalam satu hari.

Dengan mempekerjakan 170 karyawan itu, Eko berharap bisa berbagi rezeki dengan masyarakat lingkungan tempat ia menetap. Eko sengaja memilih karyawan perempuan lantaran kaum hawa ini lebih teliti dan lebih sabar dalam merangkai kerajinan tenun dari lidi.

Proses pengerjaan placemates itu mirip dengan cara menenun kain biasa. Tahap pertama adalah melakukan pemintalan benang menjadi gulungan yang besar. Selanjutnya batang lidi yang telah kering dibersihkan dari sisa-sisa daun yang masih menempel. Jika tidak dibersihkan, efeknya lidi akan mudah busuk. Setelah batang lidi bersih, maka lidi yang sudah halus itu ditenun dengan benang yang telah dipintal sesuai dengan ukuran dan permintaan konsumen.

Dalam mendapatkan bahan baku, Eko mendatangkannya dari Ciamis, Jawa Barat. Setiap ikat lidi, Eko membelinya seharga Rp 1.100 – Rp 1.200. Dalam sebulan, Eko menghabiskan 17.000 ikat. “Jumlahnya itu bisa dua sampai tiga truk dengan panjang lidi rata-rata 60 cm-70 cm,” jelas Eko.

Source http://peluangusaha.kontan.co.id http://peluangusaha.kontan.co.id/news/merangkai-untung-dari-hasil-menenun-lidi-menjadi-taplak-meja
Comments
Loading...