Kerajinan Tas Bahan Ban Bekas Dari Salatiga

0 441

Kerajinan Tas Bahan Ban Bekas Dari Salatiga

Sekelompok pemuda yang tergabung dalam Komunitas Sapu di Salatiga, Jawa Tengah, mengubah ban bekas menjadi aksesori menawan bercita rasa internasional. Sebagian besar pengguna produk-produk komunitas ini justru berasal dari luar negeri. Seperti Belanda, Belgia, Italia, Perancis, Inggris, Amerika, dan Australia.

Prihatin melihat ban-ban bekas utamanya ban dalam truk yang teronggok begitu saja menjadi sampah tak berguna, komunitas yang sebagian anggotanya penyuka tato ini, membuat sebuah inovasi yang ramah lingkungan. Mereka lantas menyulap ban-ban bekas itu menjadi aksesori menawan. Seperti gelang, gantungan kunci, aneka jenis dompet, dan aneka tas.

”Semuanya kami buat dari ban dalam bekas truk,” ucap Sindu Prasetyo, inisiator komunitas kreatif ini, saat ditemui di workshop-nya, di sebuah rumah joglo, di Desa Tetep Gembir, Salatiga. Sebuah desa yang berada di kaki Gunung Merbabu.

Mereka mengusung konsep up-cycle. Yaitu, pemanfaatan dan modifikasi bahan bekas menjadi barang berguna. ”Kami menyebutnya up-cycle karena proses perubahan bentuk dari barang bekas ke barang berguna yang kami ciptakan, tak butuh waktu lama,” ucap pemuda yang lengannya bertato, itu. Beda dengan recycle yang butuh proses agak lama. Konsep kreatif ini berawal dari kepedulian mereka, yang ingin mengurangi sampah ban-ban bekas.

Setiap hari, Komunitas Sapu mampu menghasilkan 30 jenis aksesori. Dalam sebulan, mereka mampu mengerjakan pesanan sebanyak 1.000 hingga 1.500 item. Ide menjadikan limbah ban bekas menjadi aksesori bernilai ekonomi, ucap Sindu, berawal saat dirinya aktif berkegiatan di LSM Tanam untuk Kehidupan (TUK), pada 2006-2010. TUK merupakan organisasi non-pemerintah yang bergerak di bidang lingkungan di Salatiga dan sekitarnya. Di situlah, pemuda ini banyak belajar dan mengembangkan ide memproduksi barang-barang daur ulang.

Tapi, ide menciptakan sesuatu dari ban bekas, lanjut Sindu, baru muncul pada 2010 silam. Awalnya, ia mencoba dari plastik. ”Namun, menurut saya, plastik kurang kuat dan awet untuk memproduksi sesuatu.” Setelah melewati banyak eksperimen, akhirnya Sindu menemukan ban bekas sebagai bahan baku utama membuat tas dan aksesori.

Selain kuat dan awet, kelebihan ban bekas tersedia dalam jumlah berlimpah. ”Kami ambil ban-ban bekas dari bengkel-bengkel sekitar dan ada juga pemasoknya dari Semarang,” kata Sindu.

Mulanya, ban-ban tak terpakai itu hanya diambil begitu saja. Tapi, setelah tahu ban bekas dijadikan sesuatu yang bernilai ekonomi, Sindu tak bisa lagi memperoleh ban secara gratis. Per ban dalam truk, sekarang dihargai Rp 11 ribu.

Proses menjadikan sampah ban menjadi barang bernilai cukup mudah. Ban dalam awalnya dicuci menggunakan detergen hingga bersih. Setelah proses pengeringan, dicuci lagi menggunakan cairan terpentin. Untuk membuat motif, maka ban dalam dipres. Sedangkan untuk membuat pola, langkah selanjutnya, dipahat dengan alat ukir wayang. ”Waktunya tak terlalu lama. Dalam sehari, kami bisa membuat 100 item,” ucap Sindu.

Source Kerajinan Tas Bahan Ban Bekas Dari Salatiga Kerajinan Tas Bahan Ban Bekas Dari Salatiga
Comments
Loading...