Kerajinan Tas Dari Kain Perca Di Polanharjo, Klaten

0 513

Kerajinan Tas Dari Kain Perca Di Polanharjo, Klaten

Beberapa waktu lalu orang akan menganggap kain dari sisa sisa pabrik konveksi ( Perca ) adalah limbah atau sampah yang mesti dibuang . Ternyata di Jawa Tengah,atau tepatnya di desa Kuwel Polanharjo suatu daerah pinggiran di wilayah Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, kain perca telah berhasil didayagunakan sehingga bisa menghasilkan kekayaan yang tidak sedikit buat orang yang melakukannya.

Adalah Ny.H.Hasyim As’ary/Ibu Umi Kulsum, warga Klaten, Jawa Tengah, yang sejak 1990 telah menekuni bisnis kain perca ini. Potongan kain kecil-kecil itu mereka bikin menjadi tas cantik atau dompet yang bernilai puluhan ribu rupiah. Kini setiap bulan Ibu Umi bisa memproduksi antara 200 – 300 per model. Pasar mereka, sebagaimana diungkapkan sudah meliputi Jogya, Bali, Bandung, Jakarta, lampung hingga Medan dan Pontianak Ketika mengawali bisnis ini mereka tidak perlu membeli kain perca. Para pengusaha konveksi itu malah senang karena ada yang mau “membuangkan” limbah yang mengotori tempat usahanya. Namun belakangan ketika mereka tahu kain perca itu menghasilkan duit yang tidak sedikit, para pengusaha konveksi itu lalu menetapkan harga Rp 500 per kilogram untuk kain percanya.Kain bekas dari sisa konveksi ini kebetulan banyak yang bermotif batik


Untuk menjalankan usahanya Ibu Umi memiliki lebih dari 25 mesin jahit di bengkelnya dan beberapa lagi yang dikerjakan para buruhnya dirumah masing masing. Namun menurutnya mesin jahit di bengkelnya itu hanya untuk mereka yang belajar menjahit saja. Setelah pintar menjahit, mereka diminta menjahit di rumahnya sendiri. Untuk itu, pada tahun 1993 Ibu Umi pernah memborong hampir 100 mesin jahit untuk penduduk desa di sekitar tempat tinggalnya. Pendekatan semacam ini ternyata lebih disukai para pekerjanya, karena para pekerja itu bisa menjahit sambil mengurusi urusan rumah tangganya masing-masing. Dengan cara itu pula Ibu Umi kini memiliki ratusan tenaga penjahit yang setiap saat siap menerima order dari dia bila permintaan pasar melonjak. Tas Kain bikinan ibu umi ini banyak dijual di pasar pasar seperti pasar klewer Solo, Jogya. Jakarta dan bahkan sudah melang-lang jauh sampai Pulau Sumatra dan Kalimantan.

Untuk keperluan bahan baku, Ibu Umi tidak hanya mengandalkan kain perca dari Solo ataupun daerah sekitarnaya, namun Ia bahkan mencarinya sampai Jakarta dan Bandung. Begitulah, berkat kreativitas mereka, kain perca yang tidak berharga itu bisa disulap menjadi barang yang mempunya nilai tinggi.

Walau produsen tas terus bermunculan dan persaingan kian ketat, Ibu Umi tetap bertahan dengan cara usahanya. Ia membuat tas-tas yang biasa dipakai perempuan dalam beraktivitas sehari-hari. Semua tas berbahan Kain perca atau kain bekas buatannya kebanyakan bermotifkan batik, karena motif itulah yang memang paling disukai orang, katanya. Ia dibantu beberapa orang pekerja.

Menurut Ibu Umi, daerah produsen tas di Tanah Air adalah Sidoarjo, Jawa Timur,Jogyakarta dan Tajur, Bogor. Kini daerah lainpun telah banyak yang juga memroduksi tas. Harga tas dari sentra industri tas tersebut saling bersaing, bahkan ada pengusaha yang sering banting harga demi mendapatkan pelanggan, walau secara kualitas produk mereka tidak terlalu baik..

Melihat persaingan yang demikian ketat dalam situasi ekonomi seperti sekarang ini, Ibu Umi seolah tak terpengaruh. Ia yakin, meskipun tas buatannya hanya berbahan baku kain perca tapi punya pangsa pasar tersendiri. Apalagi secara kualitas tak kalah jauh dari tas tas yang bermerek. Alasan Ibu Umi kiranya tak sulit dipahami. Tas buatannya memang cukup elegan, rapi, halus, dan tampak dikerjakan dengan penuh kecermatan. Desainnya pun tidak “ramai”, nyaris sederhana tapi tentu saja tak ketinggalan model model terbaru. Memang, jika dibanding tas-tas bermerek yang terbuat dari kulit seperti Gucci yang harganya jutaan bahkan puluhan juta, maka tas buatan Ibu Umi masih termasuk produk kelas menengah ke bawah.

Ibu Umi juga punya pelanggan khusus. Menurutnya, orang yang pernah beli tas buatannya, beberapa tahun kemudian bisa balik lagi. Ia mengakui, promosi adalah kelemahannya. “Promosi malah lebih banyak dilakukan dari mulut ke mulut, terutama pembeli,” akunya.

Source http://www.kabarindonesia.com http://www.kabarindonesia.com/beritaprint.php?id=20080604173101
Comments
Loading...