Kerajinan Tas Karya Difabel Di Pasuruan

0 213

Kerajinan Tas Karya Difabel Di Pasuruan

DI mana ada kemauan, di situ ada jalan. Kalimat ini tampaknya paling pas menggambarkan perjuangan dan usaha yang dilakukan oleh Ucil Ahmadi, pria yang terlahir tanpa tangan dan kaki yang utuh.

Mereka berdua harus mencari tempat tinggal yang baru untuk membuka usaha. Keduanya akhirnya pindah ke rumah kos di Jalan Kandangan Jaya III Nomor 3. Tempat kos itu milik saudara Supiah. Keduanya bisa tinggal dengan cuma-cuma. Di situ ada ruang tamu, satu kamar, dapur, dan kamar mandi. Ruang tamu sudah penuh dengan puluhan produk tas dan dompet. Ada juga rak besi tempat barang-barang hasil kreasi dipajang.

Dua mesin jahit diletakkan di dekat pintu masuk. Di tempat itulah suami istri tersebut bekerja. Setiap hari mereka bisa membuat lima tas berukuran besar. Atau, 10 dompet berukuran kecil. Satu tas dihargai Rp165 ribu. Untuk suvenir yang lebih kecil, harganya Rp5 ribu hingga Rp25 ribu. Produk yang dibikin berbentuk mirip dengan produk Tiara Handicraft. Hal itu tidak masalah. Sebab, Ucil masih memiliki hubungan baik dengan Tiara Handicraft. “Kalau ada undangan pameran, saya masih sering membantu Tiara,’’ kata Ucil yang saat diwawancarai masih sibuk menyusun pola untuk tas jinjing.

Meski wujud produknya mirip, merek dagang harus berbeda. Produk bikinan Ucil dan Supiah diberi nama Kanta Craft. Produk-produk Kanta sudah disebar ke sejumlah sentra usaha kecil menengah (UKM). Ada yang berada di Balai Kota Surabaya, bappemas, BK3S, hingga sentra UKM Bungurasih. ’’Lumayan. Satu sentra bisa dapat Rp1 juta lebih setiap bulan,’’ jelas Ucil.

Rata-rata omzet setiap bulan mencapai Rp5 juta. Jumlah omzet bisa lebih tinggi ketika ada pesanan. Misalnya, saat ditemui Kamis, 2 Februari 2017, Ucil punya tugas membuat 500 tote bag untuk suvenir pernikahan. Membuat tas jinjing dari bahan kanvas itu tergolong mudah bagi Ucil dan Supiah. Sehari bisa 40 tas yang dihasilkan. “Kalau banyak pesanan, kadang saya berikan ke teman lain,’’ terang pria yang hobi mendengarkan radio tersebut.

Namun, ada saja para pembeli yang tidak percaya produk yang dia jual adalah bikinan sendiri. Banyak yang menuduh produk tersebut dipesan dari orang lain. ’’Kalau tidak percaya, silakan datang ke sini. Kami buat dan jahit sendiri,’’ kata Ucil sedikit kesal.

Source https://www.rumahkreative.id https://www.rumahkreative.id/2017/08/kerajinan-batu-bongpai-sebagai-simbol.html
Comments
Loading...