Kerajinan Tas Karya Mahasiswa UNAIR Di Surabaya

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
0 159

Kerajinan Tas Karya Mahasiswa UNAIR Di Surabaya

Para mahasiswa UNAIR tidak pernah miskin kreatifitas. Salah satunya, yang dilakukan pemuda-pemudi dari D3 Radiologi Fakultas Vokasi di Surabaya, Jawa Timur. Mereka mengkreasi limbah atau barang bekas menjadi karya sarat manfaat.

Semua itu bermula saat dosen di mata ajar kewirausahaan semester IV memberi mereka tugas. Sejumlah 53 mahasiswa yang dibagi menjadi empat kelompok itu wajib membuat hasta karya. Produk tersebut mesti realistis untuk dibisniskan. Maka itu, mereka juga harus membuat bisnis plan yang rasional.

Yang menarik, limbah yang dipakai berasal dari bidang mereka sendiri. Dengan demikian, perpektif kewirausahaan yang dijadikan pedoman tidak jauh dari program studi yang digeluti. Limbah yang dikreasi tersebut antara lain berupa film rontgen yang sudah rusak, botol cairan kontras, karton pembungkus film rontgen, dan lain sebagainya. Memang, untuk “membisniskannya” dalam skala besar, perlu koordinasi dengan sejumlah stake holder. Baik di tingkat pusat hingga daerah.

Tapi, rencana tersebut bukan tidak mungkin. Mengingat, jaringan program studi radiologi yang sudah luas dan branding kampus UNAIR yang kuat. Bukan mustahil pula, suatu saat mereka akan ikut meramaikan pekan atau pameran handicraft berbahan dasar limbah.

Kerajinan Tas

Bahan dasarnya adalah film bekas rontgen yang sudah rusak atau tak terpakai. Dilipat sedemikian rupa untuk membentuk tas kecil dan tempat telepon seluler (Ponsel). Bahkan, bisa pula dikreasi menjadi wadah komputer jinjing. Ukurannya, bisa disesuikan dengan kebutuhan.

“Melipat film harus teliti. Soalnya, kalau keliru, bekas lipatan terdahulu bakal terlihat,” kata Agus Hamdani, salah satu anggota kelompok yang menamai dirinya dengan sebutan Catty Flame.

Untuk membuat prototipe tersebut, kata Hamdani, kelompoknya memakai film bekas yang ada di rumah. Kebetulan, film tersebut sudah sangat lama tidak tersentuh dan rusak. Bisa dibilang, barang itu sudah menjadi sampah.

Saat ditanya kesulitan lain untuk membuat kreasi ini, anggota lain bernama Yolanda Pangestu tidak banyak mengeluh. “Seperti yang dikatakan Hamdani, melipat-lipat film butuh kecermatan dan ketelatenan. Kalau bentuk awalnya sudah jadi, baru ditambahi aksesori pita atau bunga untuk mempercantik. Bisa direkatkan pakai lem dengan tetap menjaga kerapian,” ungkap dia.

Per satu buah kerajinan, harga yang dipatok sekitar Rp 15 ribu sampai Rp 25 ribu. Tergantung  ukuran dan tingkat kesulitan pembuatan.

Source http://news.unair.ac.id http://news.unair.ac.id/2016/04/20/mahasiswa-d3-radiologi-ubah-limbah-jadi-karya-kreatif/
Comments
Loading...