Kerajinan Tas Kulit Deluang Di Banjarmasin

0 164

Kerajinan Tas Kulit Deluang Di Banjarmasin

Pernak-pernik pakaian adat berbahan kulit kayu terpacak di pojok kiri deretan stan Festival Budaya Pasar Terapung 2 di Siring Nol Kilometer, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Di bawah terik matahari yang mulai condong ke barat, seorang lelaki tua piawai merajut kulit kayu menjadi pakaian adat masyarakat Dayak Deah.

Ia adalah Wincen, warga Desa Upau, Kecamatan Haruai, Kabupaten Tabalong. Jemarinya lincah ketika menjahit pakaian tradisional itu memakai mesin jahit modern berkelir kuning. Selain itu, peralatan lainnya seperti palu, mandau, dan belayung (kapak tua) sebagai pelengkap saat menggarap baju adat dari kulit kayu Deluang.

“Bukan hanya baju adat, tapi topi dan rok juga dibuat,” kata Wicen.

Ia belajar membuat baju dari kulit kayu secara otodidak setelah mendengar cerita masa lalu Dayak Deah. Wicen memang punya garis keturunan dari leluhur Dayak Deah yang punya tradisi baju berbahan kulit kayu. Kerajinan membuat baju dari kulit kayu ia geluti sejak 2015 silam. “Sejak tahun 2015 sudah membuat ini,” kata dia.

Dengan nada yang santun, Wincen menjelaskan tips cara membuat baju, topi, atau rok berbahan kulit kayu Deluang. Ia lebih dulu mencari batang pohon Deluang yang berukuran minimal berdiameter 10 sentimeter. Pohon ini diambil kulitnya, kemudian dipukul merata agar halus berbentuk menyerupai kain yang siap dijahit.

Menurut dia, ada kesulitan dalam membuat pakaian dari kulit kayu Deluang. Ia mesti hati-hati saat menghaluskan kulit kayu dengan alat pemukul.

Wicen berkata bahwa satu buah baju bisa menghabiskan waktu pembuatan selama 3 jam. Sedangkan pengerjaan rok perempuan dapat selesai setiap satu hari. Semakin besar diameter sebuah pohon, maka semakin banyak pula kulit kayu yang diperoleh.

Kalau batang pohon itu berdiameter 40 sentimeter, ia bisa dapat membuat 4 buah baju rompi. Adapun bila pohon memiliki diameter 15 sentimeter, maka hanya dapat 1,5 buah baju.

“Kayu Deluang dapat ditemui di kebun atau di hutan,” ungkap Wincen.

Sejak 2015, pesanan demi pesanan terus membanjiri usahanya itu. Bahkan, ia sempat kewalahan menggarap pesanan pelanggan. Menurut perhitungannya, terdapat pesanan sekitar 20-30 buah baju adat dalam sebulan.

Baju adat yang terbuat dari kulit kayu Deluang itu, kata Wincen, biasanya dipakai untuk acara adat dan festival. Namun di zaman modern, sudah jarang orang memakai pakaian adat tersebut.

Source https://kumparan.com https://kumparan.com/banjarhits/baju-kulit-kayu-dayak-deah-yang-terlupakan-1535194304818642783
Comments
Loading...