Kerajinan Tas Limbah Tali Plastik Di Sragen

0 545

Kerajinan Tas Limbah Tali Plastik

Nur Handayani, seorang sarjana arsitektur lulusan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), adalah si empunya ide pengolahan limbah tali plastik itu. Dia mengawalinya dengan membuat tas anyaman dari tali plastik sejak tahun 2002. Awalnya ia membuat tas anyaman dari tali plastik baru, tetapi saat pesanan tali plastik yang ia inginkan terlambat datang, maka ia mencoba bahan dari limbah tali plastik. Akhirnya, kerajinan itu bisa dijual dan ia meneruskan produksi tas tersebut.

Nur pun memilih keluar dari pekerjaannya sebagai arsitek di sebuah perusahaan di Solo dan membuka usaha itu. Ia berpikir apabila menikah, maka ia harus meninggalkan keluarga untuk bekerja dari pagi hingga sore. Ia kemudian memanggil seorang pengrajin tas dari daerah Jawa Timur untuk memberikan pelatihan untuknya dan warga Sragen.

Ternyata, dari pelatihan itu hanya ada dua orang yang bisa membuat tas anyaman dari tali plastik. Ia kemudian mengajak dua orang itu untuk membantu membuka usaha anyaman tas dari tali plastik. Awalnya, ia hanya ingin memberikan pelatihan kepada warga di sekitar rumahnya di Kecamatan Masaran, Sragen, agar mempunyai keterampilan dan tidak menganggur di rumah. Selain itu, bisa menambah penghasilan dari upah yang diberikan saat membuat kerajinan tas.

Kini, ia memiliki pengrajin sebanyak 300 orang yang tersebar di enam desa di Kecamatan Masaran. “Pengrajin membuat tas itu di rumah. Mereka membuat kerajinan tas sambil mengurus rumah tangga. Saya memberikan waktu sekitar dua hari. Mereka menyetorkan tas yang sudah jadi dan mengambil upah. Juga mengambil bahan untuk dibawa pulang untuk membuat tas anyaman lagi,” ungkapnya.

Pengrajin bisa membuat 20-50 biji dalam dua hari. Nur memberi upah kepada mereka mulai Rp 300-Rp 2.000 per biji tergantung tingkat kesulitan. Ia menambahkan, saat mencoba-coba untuk usaha itu, ia sempat berfikir untuk berhenti karena laba yang ia peroleh tidak sebanding dengan upah tenaga kerja. Tetapi, ia berubah fikiran saat berkunjung ke beberapa rumah pengrajin tas anyaman produksinya.

Di salah satu rumah pengrajin, dua orang anak yang masih SD di keluarga itu bisa membuat tas anyaman dari usahanya. Sedangkan ayah dan ibu kedua anak itu bekerja sebagai buruh tani di sawah. Ia juga berkunjung di rumah salah satu pengrajin lainnya yang sudah lanjut usia (Lansia). Walaupun Lansia, orang itu tetap bersemangat untuk membuat kerajinan tas. Dari kedua hal itulah, Nur memutuskan untuk melanjutkan usaha tas anyaman demi membantu warga yang kurang mampu.

Kini, ia mampu mengembangkan usahanya dengan membuka empat usaha baru. Pemasaran kerajinan tas plastik buatannya hingga di seluruh Indonesia. Ia juga pernah mengekspor ke Belanda, tetapi berhenti karena negara itu tidak memiliki cara untuk mendaur ulang bahan tas tersebut. Ia juga pernah berencana mengekspor barang ke China dan India, tetapi tidak terlaksana karena aturan ekspor yang berbelit-belit.

Source http://www.solopos.com http://www.solopos.com/2011/05/04/tas-limbah-tali-plastik-tingkatkan-ekonomi-warga-96028
Comments
Loading...