Kerajinan Tas Mote Dan Perca Di Cimahi

0 362

Kerajinan Tas Mote Dan Perca Di Cimahi

Kalau suatu saat di toko atau di jalan melihat tas warna-warni khas anak muda, bisa jadi itu tas Maika. Bisa jadi, karena sekarang banyak yang meniru Maika, meski saat kami mulai dulu, belum ada yang membuat tas seperti itu. Tapi kami tidak berkecil hati. Malah bangga, berarti hasil karya kami diakui dan disukai banyak orang.

Maika merupakan gabungan dari nama suami, Edwin Maidhanie dan Ika Yustika Pandunesia. Kami memulai bisnis ini sebetulnya sejak 2003 ketika kami masih tinggal di Bali, daerah asal suami. Saat itu, kami sudah menggunakan merk Maika. Hanya saja, produknya masih berupa kerajinan tangan, gantungan dinding, dan tas. Kebetulan, sejak dulu passion saya mendesain. Saya gemar membuat kerajinan dengan desain  sendiri.

Catnya mengunakan cat air dan tas lukis itu saya jual dengan harga terjangkau. Syukurlah, langsung diterima masyarakat. Respons atas tas yang buat bagus banget, sampai sendiri kaget. Kerajinan tangannya sendiri buat dari bahan-bahan yang langka dan kain unik. Awalnya, senang menjelajahi pasar loak dan berburu kain bagus di sana. Sisa-sisa baju gunting dan bikin kain perca.

Ternyata keren banget hasilnya dan banyak orang yang menyukai karya saya. Karena responsnya bagus, memutuskan untuk fokus menggeluti bidang ini. Kami mulai ikut pameran untuk memperkenalkan tas Maika, dan mulai membeli kain meteran sebagai bahan baku. Namun, seiring berjalannya waktu, kami menyadari kendala yang dihadapi, yaitu tenaga kerja dan bahan baku.

Banyak usaha kelas menengah di Bali yang pemiliknya ekspatriat, mendatangkan bahan baku dari negara asalnya, dibuat di Bali, lalu diekspor. Sebetulnya, pernak-pernik banyak tersedia di Bali, tapi bahan baku utama seperti kain tas lebih banyak tersedia di Bandung. Jadi, ketika ada permintaan lagi untuk kerajinan yang buat, sulit dipenuhi karena tidak ada lagi bahan bakunya.

Akhirnya, kami memutuskan untuk pindah ke Cimahi, Jawa Barat, untuk mendekati bahan baku agar produksi menjadi lebih mudah dan lancar. Apalagi, persaingan bisnis kerajinan di Bali cukup ketat. Tahun 2006, sejak pindah ke Cimahi, Jawa Barat, kami mulai berbisnis tas seperti sekarang. Memulainya hanya bertiga, yaitu ika, suami, dan seorang penjahit yang menjadi maklun.

Source https://www.pressreader.com https://www.pressreader.com/indonesia/nova/20151026/281676843772375
Comments
Loading...