Kerajinan Tas Pelepah Pisang Di Lamongan

0 284

Kerajinan Tas Pelepah Pisang Di Lamongan

Pernahkah membayangkan Anda jalan-jalan bersama teman-teman dengan menenteng sebuah tas kesayangan yang terbuat dari pelepah pisang. Bayangan awal pelepah pisang adalah sesuatu yang sepantasnya dibuang tak berguna dan sama sekali jauh dari keunikan.

Namun, jangan salah lebih dahulu. Di tangan seorang bernama Achsin Mudoffar, pelepah pisang yang kelihatannya tak berguna dan tak bermanfaat sama sekali disulap menjadi sebuah tas. Kerajinan dan kreativitasnya ini dimulainya dari pengamatannya sekian banyak pelepah pisang yang tidak terpakai itu dibuang dengan percuma.

Bahkan pelepah pisang di depan rumahnya itu sering ditebang agar tidak mengganggu pemandangan. Ternyata setelah beberapa hari ditebang, pelepah itu tumbuh lagi dengan subur. Melihat suburnya pelepah pisang itu tapi tidak dimanfaatkan sama sekali, maka Bapak Achsin, mulai berpikir untuk mengolah pelepah pisang untuk menjadi sebuah tas yang mempunyai nilai jual.

Achsin Musoffar, pria asli Lamongan ini memulai dan merintis usahanya pembuatan pelepah pisang menjadi tas pelepah pisang sejak tahun 1995. Awalnya dia tak tertarik dengan pengolahan pelepah pisang menjadi tas karena banyak hambatan yang dihadapinya pada saat merintis usaha itu. Masalah dari tenaga kerja, pembelajaran, pelatihan produksi  sampai kepada melatih pasar (test market).

Proses pembuatan pelepah pisang menjadi bahan baku pembuatan tas atau dompet tidak rumit, tetapi juga tidak mudah. Hanya jenis pelepah dari Pisang Batu, Pisang Raja Serah, dan Pisang Mas yang dapat diolah. Pelepah pisang itu terdiri dari dua lapis atau dua keping.  Dua lapis itu adalah kulit luar dan kulit dalam.

Prosesnya tidak rumit karena pembuatannya diawali penjemuran pelepah pisang secara keseluruan (seluruh lapisan mulai dari lapisan satu hingga lapisan kelima). Lama penjemuran selama lima hari. Tujuan dari penjemuran agar warna pisang  yang berwarna hijau dan penuh air itu akan menjadi kering sama sekali karena kadar air pelepah pisang berkurang. Juga warna teksturnya berubah dari warna hijau menjadi warna cream.

Ketika menguliti lapisan pelepah pisang itu mudah, harus dijaga kelembabannya. Cara agar kelembabannya terjaga, dengan mengelap handuk yang diberikan air. Serat-serat dari pelapis itu akan terbuka sedikit demi sedikit, mulai dari 4 cm hingga selanjutnya mengikuti dari panjangnya lapisan itu.   Perlu ketelatenan, kesabaran, dalam pembukaan lapisan itu, jangan sampai robek, dan fungsinya tetap lembut.

Proses selanjutnya membuat pola. Pola tas, atau dompet itu berbentuk kotak sesuai dengan ukuran tas dan dompet yang diinginkan. Untuk ukuran yang tanggung, ukuran dasar 7.6 x 2.8  cm dan ukuran penegak  7.5. x 7.5 cm lalu lapisan pelepah itu dipotong mengikuti pola. Selanjutnya dilapisi kertas karton menggunakan bahan perekat lem agar produk itu dapat bertahan lama. Terakhir dibuatkan puring untuk dijahit dan dipasang resleting.  Satu tas biasanya membutuhkan antara 10-15 kelopak pelepah pisang.  Seni menempel itu dimanfaatkan untuk tata warna.

Sekarang tas pelepah pisang telah jadi, elegan dan indah. Harganya pun terjangkau untuk kita yang biasanya beli tas bermerk. Ini khusus harga untuk lokal atau domestik bukan expor.

“Harga tas tanpa assesori untuk ukuran sedang (KC) : Rp.50,000, untuk ukuran besar (Tanggung): Rp.75,000 dan ukuran besar sekali: Rp.100,000,” ujar Bapak Achsin.

Source https://www.kompasiana.com https://www.kompasiana.com/www.inatanaya.com/tas-pelepah-pisang-yang-mendunia_5742e672be22bd1d099a9156
Comments
Loading...