Kerajinan Tehyan Di Tangerang

0 100

Kerajinan Tehyan Di Tangerang

Goyong alias Oin Sin Yang merupakan seniman sekaligus pengrajin alat musik khas Betawi bernama tehyan di Tangerang. Keberadaan musik tehyan yang semakin jarang ditemui, membuat Goyong jadi pengrajin terakhir dan masih bertahan hingga sekarang.

Mudah saja menemukan tempat tinggal Goyong, terlebih namanya sudah tersohor di perkampungan pecinan Tjoek Tek Bio, Mekarsari, Tangerang.

Meski menyandang predikat sebagai seniman dan pengrajin tehyan satu-satunya, kehidupan Goyong jauh dari kemewahan. Halaman rumah kakek berusia 66 tahun itu penuh dengan tumpukan karung-karung besar berisi botol plastik.

Di rumah seluas 8×20 meter itu, Goyong tinggal bersama istri, 8 anak, 2 menantu dan 3 cucunya. Anaknya yang paling bungsu masih kelas 6 SD sedangkan anaknya yang paling besar bekerja sebagai driver ojek online.

Goyong menyebut penjualan alat musik tehyan yang semakin menurun, membuat dia harus menyambung hidup dengan memulung botol-botol plastik.

“Ya kan pesanan Tehyannya tidak setiap hari, jarang-jarang gitu. Jadi disambi sama ngumpulin rongsokan plastik. Nanti dijual,” ujar Goyong saat ditemui kumparan (kumparan.com) di rumahnya
Dalam sebulan, Goyong bisa mengumpulkan botol-botol plastik sebanyak tiga mobil angkutan dan dijual seharga Rp3 juta rupiah kepada pengepul. Goyong menambahkan, uang Rp3 juta tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan harian selama 2 bulan.

Sementara itu, dari delapan anak Goyong, hanya satu yang melanjutkan sekolah. Ia adalah Dara, anak bungsu Goyong yang berusia 10 tahun dan duduk di bangku kelas 6 SD.

“Cuma satu yang sekolah, itu anak yang bungsu. Kalau lulus sebentar lagi masuk SMP dia. Saya pengennya bisa sekolahin anak-anak sampai tinggi,” ujar Goyong.

Sedangkan tujuh lainnya hanya tamat hingga pendidikan SD. Ovan (17) anak ke-6 Goyong memilih putus sekolah saat SD karena tidak lulus ujian nasional. Kini Ovan sering menemani Goyong saat pentas atau membantu memulung botol-botol bekas

Meski hidup dalam keterbatasan, Goyong mengaku hasil dari memulung dan membuat tehyan sudah cukup memenuhi kebutuhan.

“Ya cukup. Kan ya, biar yang pesan tehyan jarang-jarang ya lumayan lah Rp300 ribu sampai Rp500 ribu itu dapat. Buat makan,” kata Goyong.

Goyong berharap anak-anak muda Indonesia bisa terus memupuk niat untuk bermain musik tehyan karena tehyan adalah bagian dari warisan leluhur yang harus dijaga dan dilestarikan.

Source https://kumparan.com https://kumparan.com/@kumparannews/tehyan-tak-lagi-laku-goyong-hidup-dari-memulung
Comments
Loading...