Kerajinan Tenun Dengan Pewarna Rumput Laut Di NTT

0 257

Kerajinan Tenun Dengan Pewarna Rumput Laut Di NTT

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sedang mendorong penggunaan pewarna alami bagi produk fesyen di Indonesia seperti batik hingga tenun. Misalnya, salah satu pewarna alami yang berasal dari olahan rumput laut.

Produk-produk kreatif dan ramah lingkungan ini akan ditampikan di acara Swarna Fest, sebuah festival kain tenun dengan serat dan warna alam. Acara Swarna Fest 2015 akan diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian pada 6-7 November 2015 di Pantai Namberela, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Melalui Swarna Fest, serat dan warna alami kembali diperkenalkan, dikembangkan dan dipopulerkan sebagai salah satu bentuk kearifan lokal Indonesia untuk dunia. Rote dipilih menjadi tuan rumah karena kekayaan tenunnya dan merupakan destinasi wisata yang tengah diminati.

Para pelaku industri kecil dan menengah, pengrajin, desainer fesyen dan praktisi yang berkecimpung dalam serat dan warna alam Indonesia akan berpartisipasi dalam kegiatan pameran, seminar, dan fashion show. Akan ada juga workshop tenun dengan menggunakan alat tenun gedogan. 
“Indonesia punya warna tersendiri, yaitu pewarna alami. Swarna Fest akan menjadi ajang promosi tidak hanya kain tenun, tetapi juga serat dan warna alami. Acara ini akan terangkai juga dengan acara pemecahan rekor MURI tenun gedogan pewarna alam bersama sebanyak 250 orang. Ada penemuan yang akan dicatat yaitu penggunaan pewarna dari biota laut yaitu rumput laut” jelas Euis Saedah, Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah, dalam media gathering Swarna Fest 2015 di Kementerian Perindustrian.

Dengan mengangkat tema ‘Road To Indonesia Ethical Fashion’. Merdi Sihombing, perancang busana spesialis kain tenun dengan pewarna dan serat alami mengatakan Swarna Fest ke-3 akan mengangkat ethical fashion sebagai terobosan baru dari dunia fesyen yang digandeng dengan green fashion atau sustainable fashion. Penemuan baru dalam pewarnaan alami dari biota laut yaitu rumput laut akan ditampilkan. Merdi merupakan penemu pewarna alami dari rumput laut.

“Rote merupakan penghasil rumput laut terbesar kedua di Indonesia. Penenun Rote kebanyakan dari Pulau Ndao. Ndao sendiri artinya adalah indigo,” kata Merdi.

Merdi juga mendidik dan mengajari penenun tradisional di Rote Ndao untuk menggunakan pewarna dan serat alam tidak hanya menjadi kain melainkan juga busana. Kain tradisional pada mulanya diproses menggunakan pewarna alam dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia. Bahan-bahan pewarna alami dari daun, kulit pohon, kayu pohon, bunga, buah, biji buah, kulit buah dan akar. Zat yang terkandung dalam tumbuhan bisa nenghasilkan bermacam warna. Misalnya warna biru dihasilkan dari daun nila/tom/indigofera. Warna kuning bisa.dihasilkan dari kayu tegeran, coklat dari kayu tingi, kemerahan dari secang dan lainnya.

Pewarna alam sudah digunakan sejak jaman nenek moyang dan menjadi warisan budaya yang harus dilestarikan. Saat ini, penggunaan pewarna alam menjadi tren yang sedang diminati dunia. Hasil kain dengan pewarna alam lembut, khas dan punya nilai budaya tinggi.

“Selama ini para penenun yang ada di daerah melakukan kegiatan tenun sebagai kebiasaan dan bagiandari budaya masyarakat setempat. Hasilnya dari waktu ke waktu menjadi belum maksimal. kegiatan Swarna Fest memberi wawasan bagi perajin. Kegiatan menenun bukan lagi sekedar budaya tapi sudah diarahkan ke aspek bisnis,” kata Kepala Dinas Perindustrian Kabupaten Rote Ndao Nunuhitu.

Source https://finance.detik.com https://finance.detik.com/industri/d-3043175/kreatif-rumput-laut-disulap-jadi-pewarna-tenun
Comments
Loading...