Kerajinan Tenun Di Belu

0 364

Kerajinan Tenun Di Belu

Cekatan nian mama Yustina Mariahoar ini. Kedua tangannya mengembang memegang ujung bambu. Silih berganti kayu digerakkan sehingga pelan-pelan benang membentuk motif. Matanya terus mengarah ke untaian benang yang sedang ditenunnya.

Di bawah rumah adat panggung di Desa Faturika, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Yustina berkhidmat di depan alat tenun dari pagi sampai sore.

Desa Faturika berada sekitar 30 kilometer dari Atambua, ibu kota Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Perlu waktu sekitar 1,5 jam menuju desa ini dari Atambua.

Membuat motif dengan dominan garis dan segitiga. Ia memperkirakan kain hasil tenunannya selesai tiga hari sehingga membentuk kain ukuran sekitar dua meter. Konon, kata mama, ada motif tapi yang memerlukan waktu setahun untuk menyelesaikannya.

Saat membuat motif, Yustina sama sekali tak menggunakan buku catatan atau panduan. Sesekali mama menengok untuk menjelaskan aktivitasnya kepada pengunjung, termasuk Beritagar.id. Sejenak mama melepaskan tangan dari alat tenun.

Yustina mengenal tenun sejak kecil. Lepas dari SD, mama berusia 39 tahun ini mulai sepenuh hatinya berada di belakang alat tenun. Lebih dari 20 tahun dan sudah banyak kain dengan beragam motif yang dihasilkan.

Yustina pun berusaha menularkan kemampuan kepada dua anak perempuannya yang masih bersekolah di SD dan SMP. Kalau sedang libur sekolah, kedua nona akan membantu mamanya menenun. “Nanti kalau kami mati, tenun tidak mati,” kata Yustina.

Kecamatan Raimanuk termasuk sentra penghasil tenun di Kabupaten Belu. Sebagian besar mama-mama, apalagi yang tinggal di rumah adat, hidupnya mengandalkan dari menenun.

Di desa lain, mama-mama pun tak kalah pandai dalam membuat kain tenun. Anamaria Lawa 42, misalnya, warga Desa Nualain, Kecamatan Lamakten Selatan menenun di sela kegiatannya berladang.

Menenun menjadi bagian dari keseharian mama-mama di Belu. Bahkan ada pantun sindiran buat perempuan yang tak pandai menenun biasanya kalau hendak dipinang laki-laki. Keluarga laki-laki akan mengeluarkan sindiran bahwa mereka tak melihat alat tenun.

Mama Yustina, mama Anamaria, dan mama-mama lainnya menjual kain itu ke Atambua. Pengunjung pun dapat membeli langsung di tempat pembuatan tenun. Harga kain tenun termurah adalah Rp250 ribu. Kain lain, seperti yang pembuatannya mencapai setahun, mencapai jutaan rupiah.

Lidwina Viviawaty, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Belu mengatakan perempuan penenun tersebar di 69 desa dan 12 kecamatan di Kabupaten Belu. Lidwina yang merupakan istri Bupati Belu,Willybrodus Lay, sering memberikan pelatihan menenun kepada para ibu-ibu di daerahnya, termasuk pemakaian pewarna alami.

Kain tenun Belu, kata Vivi, akan dipromosikan di luar negeri pada acara Pameran Indonesia Moscow, di Moscow, Rusia pada 2-5 Agustus 2018. Melalui ajang tersebut, pihaknya berharap kain tenun Belu bisa dikenal masyarakat di luar negeri.

Belu merupakan kabupaten yang terletak di pulauTimor, NusaTenggaraTimur yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste. Belu memiliki harta kekayaan berupa kesenian dan acara-acara rakyat yang unik.

Kesenian yang dimiliki oleh masyarakat Belu meliputi seni tenun, seni anyam, seni ukir, seni lukis, seni tari, dan seni musik. Beragam karya senin itu muncul dalam upacara kelahiran, kematian, perkawinan, penyambutan tamu, serta upacara adat lainnya.

Tenunan menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari warga Belu. Berbagai ritual seringkali memerlukan tenunan, mulai dari kepala sampai penutup bagian bawah. Seluruh PNS pun menggunakan kain tenun setiap Kamis dan Jumat.

Penggunaan kain tenun ini memberi kebanggaan pada pemakainya karena ada nilai-nilai filosofis maupun religius.

Source https://beritagar.id https://beritagar.id/artikel/laporan-khas/mama-di-belu-tak-mau-tenun-mati
Comments
Loading...