Kerajinan Tenun Di Dairi, Sumatera Utara

0 389

Kerajinan Tenun Di Dairi, Sumatera Utara

Ratusan perajin (penenun) di daerah wisata Silalahi dan Paropo, Kecamatan Silahisabungan, Kabupaten Dairi, yang hingga kini masih eksis menggeluti kerajinan tangan tenun ulos maupun pasangan sarung dan selendang, sangat mendambakan (butuh) bantuan bahan baku. Bantuan yang diharapkan seperti benang maupun suntikan modal untuk mengembangkan usaha kecil menengah (UKM).

Sejumlah perajin tersebut mengatakan mereka sulit berkembang karena keterbatasan modal. Sementara, jika punya modal yang cukup, permintaan hasil kerajinan khususnya pasangan sarung serta selendang tapak satu atau salah satu jenis kerajinan yang paling laris dijual cukup diminati pembeli. Namun, karena mahalnya bahan baku seperti benang tersebut, perajin hanya memproduksi sedikit.

Dosrita boru Silalahi penduduk Desa Silalahi I, salah satu dari ratusan ibu-ibu rumahtangga yang berprofesi sebagai penenun saat ditemui belum lama ini mengatakan, mereka terpaksa harus menahan selera untuk bisa berproduksi banyak untuk mendapatkan keuntungan lumayan. Sebab, kata ibu satu orang anak tersebut, mereka kekurangn modal untuk membeli bahan baku seperti benang yang harganya mahal.

Sambil menyelesaikan pekerjaan pembuatan sarung tapak satu miliknya, Dosrita boru Silalahi menerangkan, untuk satu pasang kain tapak satu hasil produksi mereka dihargai sekitar Rp 350.000-Rp 400.000. Hasil mereka ditampung agen pengumpul dari Kota Medan dan Tarutung, namun sebagian ada yang langsung dijual ke konsumen tergantung pemesannya saja.

“Jika bahan baku tersedia, produksi bisa mencapai 5 pasang hingga 7 pasang per bulan tergantung kelengkapan bahan bakau (benang). Tapi, kadang kita tidak bisa menenun karena bahan kurang karena beli bahan baku masih ke kota Tarutung dan Pematangsiantar, artinya butuh modal lagi (ongkos) untuk beli bahan baku karena belum ada tersedia di kota Sidikalang sebagai ibu kota Dairi,” jelasnya.

Ibu muda dan ratusan ibu rumahtangga selaku perajin tradisional itu mengharapkan, perhatian pemerintah setempat maupun Pemprovsu untuk membantu para penenunun khususnya pemenuhan bahan baku benang agar produksi bisa ditingkatkan. Begitu juga pihak perbankan sangat diharapkan bisa memberikan pinjaman sebagai upaya penguatan permodalan para perajin karena hasil perajin masih sangat diminati pembeli sehingga punya prospek menjanjikan.

Mereka berharap agar keluhannya mendapat tanggapan atau perhatian dari pemerintah. Sebab, profesi yang mereka geluti di daerah pariwisata pantai Silalahi tersebut sedikit banyak telah mampu menopang ekonomi keluarga mereka selain dari hasil pertanian dan profesi itu sudah turun temurun dari nenek moyang mereka dan punya prospek menjanjikan.

Bila dikelola dengan baik, selain untuk dikirim ke sejumlah pasar di Sumut, hasil perajin bisa jadi sebagai oleh-oleh khas dari sana untuk dipasarkan kepada para wisatawan yang berkunjung ke sana. Sementara, terlihat hingga saat ini belum ada gerai (toko) yang menjual hasil kerajinan itu di Silalahi, semuanya masih tertutup atau tidak dipasarkan sebagai cenderamata bagi pengunjung.

Source http://www.medanbisnisdaily.com http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/?id=109744
Comments
Loading...