Kerajinan Tenun Gumise Gerung Di Lombok

0 157

Kerajinan Tenun Gumise Gerung Di Lombok

Tenun ikat Gumise, Desa Giri Tembesi Kecamatan Gerung begitu dikenal di Lombok Barat hingga ke NTB bahkan ke luar daerah. Tenun yang menjadi andalan Lobar ini memiliki kekhasan motif, berupa motif segi empat kombinasi motif hujan. Namun perkembangan waktu, perajin butuh pelatihan untuk memperkaya motif tenun yang dihasilkan. Pasalnya para perajin memiliki hambatan terbatasnya motif yang ingin dibuat, lantaran terbatasnya kemampuan para perajin. Pengembangan motif ini juga untuk menarik pembeli untuk membeli tenun hasil perajin setempat.

Ketua kelompok tenun Gumise, Wayan Landri ditemui di Gumise menuturkan, pengembangan kerajinan tenun di daerahnya mulai muncul sejak tahun 1997 lalu. Ia-lah yang mempelopori pengembangan kerajinan tenun khas tersebut. “Cara menenun ini saya peroleh dari Nuse Penida, lalu saya kembangkan disini,“akunya.

Ia pun memulai menenun sendiri di rumahnya. Lambat laun, warga sekitar pun mau menenun. Satu per satu warga pun memulai belajar menenun. Ia pun suka rela mengajarkan warga lain agar bisa menenun. Awalnya, hanya beberapa warga saja yang mau menekuni tenun ini, lantaran warga menganggap pekerjaan ini tak menghasilkan banyak uang. Warga juga menganggap menenun ini pekerjaan sampingan, sebab pekerjaan utamanya bertani dan beternak serta berkebun.

Terkait pangsa pasar, Sejauh ini diakui masih sangat terbatas. Diakui pangsa pasar masih lokal, belum ada pangsa pasar hingga keluar daerah. Orderan tenun pun fluktuatif. Terkadang banyak orderan, bahkan terkadang sepi orderan. Ia mengaku, perajin lebih banyak mengandalkan orderan dari kantor dinas. Ia mengaku, dinas-dinas ada yang memesan 30-40 unit selain itu ada yang memesan dari pihak kecamatan. Termasuk Pemda memesasan untuk pelaksanaan MTQ sebanyak 500 potong, namun pihaknya hanya mampu memehui 250 potong saja. Hal ini dikarenakan waktu yang diberikan mepet. Pihaknya diberi waktu 2 bulan untuk menyelesaikan 500 potong kain tenun.

Ia mengaku, jika melihat penghasilan perajin masih minim. Hal ini menyebabkan mereka enggan mau menenun. Karena itu, mereka pun menutupi dengan bertani dan berkebun. Ketika musim tanam tiba,warga beralih mengarap pertanian. Namun ketika musim tanan dan panen berakhir barulah mereka kembali menenun. “Kebanyakan yang aktif ini mereka yang tak punya lahan garapan, kerajinan ini satu-satunya yang diharapkan,”jelasnya.

Source Kerajinan Tenun Gumise Gerung Di Lombok Kerajinan Tenun Gumise Gerung Di Lombok
Comments
Loading...