Kerajinan Tenun Kasab Di Aceh Singkil

0 217

Kerajinan Tenun Kasab Di Aceh Singkil

Jari-jari tangan tua itu perlahan bergerak di atas kain merah. Telaten melukis, agar menghasilkan ukiran yang indah. Sesekali wanita itu berhenti. Matanya memperhatikan hasil rajutan. Bagus. Senyum pun terkembang pada kepuasan hasil karya. terasa puas atas keindahan ukiran itu.

Lalu, tangan memegang jarum rajut, mengayun meng­ukir sulam indah diatas kain merah itu. Itulah Tenun Kasap, yang sedang disele­saikan oleh Nur Yasin, warga Desa Kuala Baru, Aceh Singkil. Kuala Baru adalah desa pengrajin tenun di Aceh Singkil. Letaknya sekitar satu jam perjalanan dengan perahu bermotor dari Pasar Singkil, pusat Kota Syech­ Abdurauf Al-Singkili itu. Masyarakat menyebut angkutan itu dengan nama Robin, diambil dari nama mesin motor penggerak untuk jalur transportasi di sana. Menuju Kuala Baru, harga sewa satu unit Robin sebesar Rp 20.000.

Masyarakat di sana selama ini menggantungkan hidup dari hasil tangkapan ikan. Umumnya, kaum adam bekerja sebagai nelayan. Setahun lalu industri kerajinan kecil ini, mulai menggeliat lagi, saat Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Kabupaten Aceh Singkil menggagas pendirian pengurus kecamatan organisasi tersebut. Disinilah awal terorganisirnya kerajinan nenek moyang yang telah turun temurun itu. Sebelumnya, hanya sebatas kerajinan tradisional semata.

Nur Yasin menyebutkan, usaha yang ditekuninya saat ini sedikit membantu ekonomi keluarga. Terlebih sepanjang akhir tahun lalu, hasil tangkapan ikan sangat sedikit. Badai membuat para nelayan enggan melaut. “Jarang sekali nelayan di sini punya boat besar, rata-rata pakai boat tradisional seperti robin itu,” ujarnya.

Awalnya Nur Yasin bersama puluhan pengrajin lainnya bergabung dalam Usaha Kecil Menengah (UKM) Wanita Kuala Baru. UKM itu didirikan bersama IWAPI setempat. Saat itu, mereka mengumpulkan dana patungan untuk membeli alat pembuatan kasab seperti; benang, hiasan mote, kain beludru, jarum dan manik-manik. Mereka kemudian mendirikan usaha di rumah masing-masing.

Nur Yasin mengeluh soal sedikitnya lembaga yang memperhatikan usaha leluhur mereka itu. Itu dibenarkan oleh Asra, Ketua IWAPI daerah tersebut. Bahkan, organisasi yang menaungi 113 pengrajin tenun dan sulaman kasap tradisional itu pernah mengirimkan proposal permohonan modal usaha ke Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR) Aceh-Nias, Juli tahun lalu. Hasilnya nihil. Tidak mendapat jawaban dari lembaga yang bertanggungjawab atas pemulihan Aceh pascatsunami.

Koperasi IWAPI Kabupaten Aceh Singkil mengucurkan bantuan modal untuk pengrajin di sana sebesar Rp 75 Juta. “Telah kita salurkan sebesar Rp 60 Juta dengan bunga satu persen perbulan. Namun kemampuan modal terbatas, hanya 45 orang yang dapat bantuan itu,” sebut Asra.

Bantuan itu masih menggunakan metode lama. Ketika dana yang dipinjamkan kembali, barulah IWAPI setempat menggilirkan untuk pengrajin lainnya. Pemasaran untuk produk ini masih sangat klasik. Untuk promosi, kerajinan itu tidak memiliki dana. “Kebanyakan mempromosikan secara iniasiatif saja. Membawa ke kota atau ke saudara-saudara yang berada di tempat lain,” ujar Aliza, sekretaris IWAPI Kuala Baru.

Sesekali jika ada pekerja NGO asing yang berkunjung ke daerah itu, harapan rezeki besar baru datang. Perlahan, pemasaran makin baik. Kata Aliza, tenun kasap sekarang sudah hadir di toko-toko souvenir di Bireun, Banda Aceh, Padang dan Jawa Timur. Sejauh ini belum ada yang memasarkan ke luar negeri. Padahal dulu sempat menembus pasar internasional di Malaysia dan Singapura. Begitulah kisah pengrajin tradisional di Kuala Baru. Penjualan dengan metode klasik terus dilakukan. Bukan hanya sekedar bertahan untuk sesuap nasi, namun juga bertahan untuk memperkenalkan budaya Kuala Baru di mata dunia.

Source http://dimas-sambo.blogspot.com http://dimas-sambo.blogspot.com/2012/06/mengintip-kerajinan-kasab-aceh-singkil.html
Comments
Loading...