Kerajinan Tenun Khas Maluku Tenggara Barat

0 523

Kerajinan Tenun Khas Maluku Tenggara Barat

Salah satu identitas daerah terletak pada budayanya. Dan kain adalah salah satu produk budaya. Dari kain orang akan paham asal usul daerah. Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau punya ciri khas kain yang beragam pula. Seperti di Indonesia Timur, Maluku. Kearifan lokal di Maluku melahirkan karya wastra yang kaya.

Tiap kabupaten memiliki keunikan kain tersendiri. Namun hanya beberapa wilayah di Maluku yang masih mempertahankan budaya itu. Salah satunya adalah kain tenun dari Maluku Tenggara Barat (MTB). Bila kita ingin membeli kain kain yang cantik itu, tidak perlu jauh jauh berlayar ke MTB. Di Kota Ambon, masih ada para penenun asal MTB yang tiap harinya mengerjakan untaian benang.

Mereka adalah penjaga budaya yang masih lestari di sini. Beberapa warga asli MTB masih mempertahankan pengerjaan tenun. Pembuatannya secara perorangan dibawah naungan usaha dagang pribadi. Rachel Masela atau yang akrab disapa Rina Masela merupakan pengusaha tenun yang lestari di Ambon.

“Sudah dari dolo waktu mama masih muda dan beta masih kecil sudah menenun,” jelasnya. Rina mengaku usaha warisan keluarga sudah dijalankan sejak 1990 bersama sang ibu. Di kediaman mereka di Skip Kota Ambon, kain kain indah khas MTB lahir. Pembuatan tenun bukan lagi hal baru. Rina berasal dari Kampung Kandar.

Sejak SD, anak anak kampung Kandar MTB sudah diajarkan menenun. Sepeninggal sang ibu, Rina yang meneruskan usaha dibantu empat pengrajin lain. Mereka semua sekampung, dari Kandar. Di bawah naungan UD Burburat, produksi temun berjalan tiap hari. Dalam sebulan bisa hasilkan delapan lembar kain.

“Motifnya didapat dengan cara ikat. Benang diikat dulu untuk bentuk motif yang mau dibuat,” lanjut perempuan yang tengah menyiapkan sepasang baju pengantin tenun untuk dikirim ke Jerman. Dalam sebulan bisa hasilkan delapan lembar kain dari empat orang penenun. Masing masing mampu menyelesaikn sebanyak dua potong kain.

Nah, orang yang ingin membeli biasanya datang langsung ke workshopnya yang ada di Jalan Skip Jembatan Hautuna. Harga yang dipatok mulai dari Rp 150.000 untuk syal hingga Rp 700.000 untuk selembar kain ukuran satu meter lebih. Selain di Skip, produksi tenun juga ada di daerah Kudamati Kota Ambon. “Fokus kerjaannya baru pada 2010 setelah pensiun,” kata Maria Magdalena Barutresy Rangkoratat.

Mantan guru SMA Negeri 1 Ambon, itu membuat sendiri tenun disela sela kesibukan rumah tangga. Perempuan yang akrab disapa Ibu Barutresy itu berasal dari kampung yang berbeda dengan pengrajin tenun keluarga Masela. Dia berasal dari Desa Namtabung, MTB. Sama halnya dengan Rina, mereka sejak kecil sudah diperkenalkan dengan Tenun.

Maka tak heran, hasilnya pun termasuk kelas wahid. Terbukti Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bahkan pernah memboyong tenun buatannya. “Desember tahun lalu ibu Susi datang beli langsung di rumah saya,” lanjut pemilik UD Juindah itu. Motif yang dibeli adalah motif tua dengan benang khusus dari kapas. Saat ini memang tak banyak penenun yang memakai benang organik.

Harganya yang mahal serta jumlah kapas yang terbatas. Di rumahnya di daerah Lorong SPK Kudamati itu, terdapat berbagai kain tenun. Semuanya memang sudah sold out, namun bila ada yang ingin membeli bisa mengikuti motif yang sudah ada.

Nah jika kebetulan mampir di Ambon, kain tenun dari para pengrajin asal MTB ini bisa jadi pilihan buah tangan yang pas. Soal kualitas tak perlu diragukan lagi. Pembeli juga dapat melihat langsung proses pengerjaan dan melakukan tawar menawar yang wajar langsung dengan penenunnya.

Source https://terasmaluku.com https://terasmaluku.com/tenun-tenun-cantik-khas-mtb-yang-tetap-lestari/
Comments
Loading...