Kerajinan Tenun Melayu Di Kepulauan Meranti

0 167

Kerajinan Tenun Melayu Di Kepulauan Meranti

Rita mengenalkan songket Riau sebagai cirri khas melayu Meranti ke kalangan ibu pejabat dan pesta pesta adat. Ikut dalam pameran-pameran di kabupaten, serta menjualkannya ke sanak family termasuk yang berada di negeri jiran Malaysia. Mereka sekarang bahkan merancang rajutan khas kepulauan meranti, songket daun sagu.

5 Tahun belakangan ini, kelompok SPP mulai mengenal PNPM Mandiri Perdesaan. Mereka pun mulai berani mengembangkan usaha dengan meminjam modal melalui UPK Kecamatan Tebing Tinggi  program PNPM Mandiri Perdesaan. Pinjaman itu tak hanya membangkitkan usaha, tetapi membangkitkan semangat untuk meneruskan hidup. Pagi hingga malam, semangat itu seolah tiada henti menghantarkan mereka perjuangan hidup.

Hasil menenun ini membuatnya tak lagi mengharuska ia diusia menjelang senja ini memburu sayur diemperan ladang yang hasilnya hanya bisa untuk makan. Namun hasil tenun ini justru membangkitkan hidupnya. Ia tak hanya bisa melanjutkan hidup tetapi melanjutkan impian anak-anaknya menyelesaikan sekolah. Puluhan tahun hidup sebagai janda dan menopang hidup sendiri tak membuatnya takut berkat keuletannya menenun.

Satu minggu ia bisa menghasilkan rangkaian benang dengan 1 buah kain songket yang dihargai dari Rp 1 juta sampai Rp 2 juta rupiah. Dipotong dengan modal pembelian benang dan upah merajut benang, serta memulangkan uang pinjaman,  setidaknya satu bulan ia bisa mengantongi uang Rp 2 juta.

Rita, ketua kelompok SPP Gaya Puan, hasil rajutan anggota sebagai bayaran pinjaman. Lain lagi kisah Juraida, pelan-pelan hasil jerih payahnya selama 5 tahun ini bisa mengumpulkan bahan bangunan. Rumah setengah jadi dibelakang rumahnya menjadi tatapan penyemangat hidupnya untuk terus bekerja sebagai penenun. Sebelumnya ia bekerja sebagai pengutip sagu, pergi pagi pulang petang, dengan berpeluh melawan matahari dan terpaksa menutup muka mereka , ditabur bedak dingin agar wajah tak terbakar matahari, dengan penghasilan hanya Rp 80 ribu perbulan dan terpaksa meninggalkan anak anak dirumah.

“Sekarang jauh lebih enak.” Ujar Juraida tak banyak kata meluapkan kebahagiaannya menemukan usaha yang lebih menjanjikan.

Sayangnya tak banyak generasi yang mau melirik usaha tenun manual ini. Samsiah alias Rita ketua kelompok SPP tenun ini terkadang kewalahan untuk memenuhi permintaan pelanggannya. Sudah banyak yang ia latih untuk menjadi penenun, bahkan sudah banyak alat tenun yang ia buatkan, namun menenun masih belum dicintai masyarakat.

Tak sulit bagi Rita sebagai ketua kelompok untuk mengumpulkan uang sebagai bayaran cicilan pinjaman ke UPK. Anggota kelompoknya cukup dengan membayar kain tenun. Sudah 5 tahun ini mereka meminjam ke UPK, namun tidak sekalipun mereka menunggak. Tahun ini saja mereka mendapat pinjaman sebesar Rp 90 juta.

Source https://pnpmmpdriau.wordpress.com https://pnpmmpdriau.wordpress.com/2014/10/27/merajut-kehidupan-dalam-helaian-benang/
Comments
Loading...