Kerajinan Tenun Motif Kaltara Di Tarakan

0 329

Kerajinan Tenun Motif Kaltara Di Tarakan

Tidakperlu lagi jauh-jauh untuk pergi ke Nusa Tenggara Timur untuk mendapatkan kain tenun ikat. Kini di Bumi Paguntaka, salah satu kerajinan tangan warisan budaya Indonesia itu sudah dapat ditemui. Bahkan Anda bisa sekaligus mencoba menenun langsung bersama perajinnya, Mersiah Dua Moong.

Ibu satu anak ini menjadi satu-satunya penenun kain khas NTT di Kota Tarakan. Berbekal bakat yang diturunkan dari keluarganya dan alat tenun yang dibuatnya sendiri, Mersiah sudah banyak menghasilkan kain tenun ikat.

Sembilan tahun sudah Mersiah rutin menenun kain. Berawal dari keinginannya untuk mengisi kekosongan waktu di kala dirinya sudah tidak lagi bekerja. Tidak banyak kendala yang dihadapidi awal-awal mulai menenun, sebab tangannya sudah piawai menyusun benang sehingga menghasilkan kain tenun dengan beragam motif yang indah. Bersama suaminya, Mersiah membuat sendiri alat tenun yang akan digunakannya untuk menyatukan ribuan kain untuk menjadi sehelai kain.

Awalnya Mersiah tidak terpikir untuk menjual kain tenun yang dihasilkannya, selama ini dirinya hanya membuat kain tenun untuk dipakai sendiri. Selain itu wanita berdarah Maumere ini juga selalu menyediakan kain tenun untuk keperluan keluarga, seperti pernikahan, dan pemakaman.

Diakuinya kain tenun menjadi salah satu benda wajib yang dimiliki orang NTT, sehingga tidak heran jika di rumah-rumah warga di NTT memiliki alat tenun, dan kesibukan para wanitanya diisi dengan menenun. “Dari kecil saya sudah bisa menenun karena di kampung saya setiap rumah itu punya alat menenun dan pasti menenun, jadi sudah terbiasa sendirilah. Selama ini benangnya juga saya kirim langsung dari Flores, Maumere. Karena benang yang dipakai itu khusus,” ceritanya.

Untuk mendapatkan satu kain tenun ikat, Mersiah mengaku membutuhkan waktu selama sebulan. Meski cukup lama, namun kualitas kain yang dihasilkan tidak bisa diragukan, sebab mulai dari proses pewarnaan, hingga menenun dilakukan secara manual. Oleh karenanya, dalam setiap proses pengerjaannya dibutuhkan ketelitian yang ekstra, jika terjadi kesalahan sedikit motif kain bisa berubah.

Tidak hanya membuat motif khas NTT, Mersiah juga turut berinovasi membuat kain tenun ikat dengan motif khas Kota Tarakan. Salah satunya semandak.

Tidak disangka, hasil karyanya itu kini membuatnya semakin dikenal masyarakat Tarakan sebagai pengrajin tenun ikat di Tarakan. Meski dirasakannya membuat motif khas Kota Tarakan dirasa cukup sulit, namun istri dari Petrus ini tidak mau menyerah begitu saja.

“Selama ini saya mengkreasikan motif sendiri, tapi saya terpikir untuk membuat motif khas Tarakan, seperti pakis, dan semandak. Syukurnya saya juga tergabung dalam komunitas UMKM, di situ saya semakin percaya kalau saya bisa membuat motif Tarakan yang memang cukup sulit, karena banyak lekukan, dan bersambung-sambung makanya feeling waktu mengerjakan itu harus kuat,” jelasnya.

Beberapa kain tenun dengan motif khas Tarakan karyanya pun sudah pernah dibeli beberapa istri pejabat di Tarakan. Di antaranya Juislinda, istri Wali Kota non aktif Sofian Raga dan Siti Rujiah, istri mantan Sekretaris Daerah Kota Tarakan dr. Khairul.

Selama ini, Mersiah memproduksi kain tenun ikat dibantu oleh tantenya. Sehingga dalam sebulan bisa menghasilkan dua kain tenun ikat. Untuk harganya, Mersiah mematok Rp 1,2 juta ukuran panjang dua meter, dan lebar 80 cm.

Source http://kaltara.prokal.co http://kaltara.prokal.co/read/news/17506-kerajinan-tanah-kelahiran-dipadu-motif-kaltara.html
Comments
Loading...