Kerajinan Tenun Oleh Juragan Tenun Di Lombok

0 277

Kerajinan Tenun Oleh Juragan Tenun Di Lombok

Komitmen menjaga kualitas menjadi kunci utama Moch Syamsul Azis dalam usahanya mengembangkan bisnis kerajinan tenun khas Lombok. Tak kenal lelah ia mempromosikan tenun Lombok ke berbagai daerah di Indonesia. Semangat berwirausaha telah menulari Moch Syamsul Azis sejak usia 16 tahun.

Saat itu, sekitar tahun 2005, pria yang berdomisili di Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, ini masih duduk di bangku SMK jurusan automotif. Kesempatan datang pada saat sekolahnya mengadakan program studi banding ke Yogyakarta.

”Waktu itu saya dikirim langsung oleh sekolah untuk mengikuti pelatihan seminggu di Yogyakarta. Di sana (Yogyakarta) saya banyak belajar, antara lain tentang wirausaha,” ujar Syamsul Azis saat mengikuti Pasar Indonesia Goes to Mall yang diselenggarakan Bank Mandiri di Mal Kelapa Gading, Jakarta, akhir pekan lalu.

Informasi dan pengetahuan yang didapat Syamsul Azis selama pelatihan melambungkan tekadnya untuk berwirausaha. Sebelum lulus SMK, ia sempat membuka usaha wartel dan counter handphone. Namun, tak lama kemudian ia menutup usahanya dan melanjutkan kuliah di Jurusan Bahasa Inggris Universitas Mataram.

Di sela-sela kesibukannya melaksanakan kuliah dan bekerja, Syamsul Azis menyempatkan diri untuk berjualan tenun ikat dan tenun songket khas Lombok. Ketika berpameran di Jakarta dan melihat prospek cerah bisnis tenun, semangatnya untuk berwirausaha kembali memuncak.

Akhirnya Syamsul Azis meninggalkan bangku kuliah agar bisa kembali merintis wirausaha. ”Dibanding bekerja pada orang lain, berwirausaha lebih enak. Kerjanya sedikit, tapi dapatnya lebih banyak,” katanya.

Sebagai anak pedagang tenun, sejak kecil Syamsul Azis sudah sangat familiar dengan usaha jual-beli tenun. Desa Sukarara, tempat tinggal Syamsul Azis, memang sejak lama dikenal sebagai salah satu sentra tenun di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Menurut Syamsul, sekitar 70 persen penduduk Sukarara adalah wanita, di mana 98 persen dari para wanita itu bermata pencaharian sebagai penenun. Kain hasil tenunan para perajin, baik berupa tenun songket maupun tenun ikat, bisa dijual sendiri oleh yang bersangkutan atau dititipkan di koperasi.

Pembuatan kain tenun umumnya memakan waktu cukup lama, sekitar sebulan. Kain-kain ini selanjutnya dijadikan beragam produk seperti baju, sarung untuk bawahan, syal, selendang, taplak meja, hingga jaket. Harga jualnya pun bervariasi, mulai yang termurah berupa syal seharga Rp50 ribu hingga yang termahal berupa kain bermotif agak rumit yang dibanderol Rp7 juta.

Dengan produk dan kisaran harga tersebut, usaha dagang kain tenun yang dijalani Syamsul Azis bisa meraup omzet Rp50 juta-Rp200 juta per bulan. ”Omzet per bulan memang tidak tentu. Kadang tinggi sampai Rp200 juta, tapi pernah juga cuma dapat Rp100 ribu karena yang terjual hanya syal saja,” sebutnya.

Menurut Syamsul Azis, peluang untuk mendongkrak omzet biasanya datang saat musim liburan di negara-negara Barat. Ketika itu banyak turis asing asal Amerika dan Eropa yang berwisata ke Lombok. Para wisatawan ini umumnya akan dipandu untuk mampir di Sukarara yang dikenal sebagai desa sadar wisata tenunan.

Di sini, para turis bisa melihat langsung proses pembuatan tenun secara manual sekaligus berbelanja produk di showroom tenun yang bisa ditemui hampir di setiap rumah penduduk. ”Peluang lain untuk menambah omzet ya dengan mengikuti pameran,” ungkap Syamsul Azis yang sudah dua kali berpameran bersama Bank Mandiri.

Source https://ekbis.sindonews.com https://ekbis.sindonews.com/read/598525/36/dulu-berpindah-pindah-kerja-kini-juragan-tenun-1332474122
Comments
Loading...