Kerajinan Tenun Rainbow Pewarna Alami Di Sleman

0 176

Kerajinan Tenun Rainbow Pewarna Alami Di Sleman

Jimah, seorang perajin kain tenun. Begitujuga 370 penenun lain dari Dusun Sejatidesa, Desa Sumberarum, Sleman, Yogyakarta. Mereka menenun sudah turun menurun. Sayangnya, kehidupan ekonomi mereka terbilang sulit karena harga tenunan rendah. “Harga murah, tetapi saya tetap harus menenun. Penghidupan saya hanya dari tenun,” katanya.

Perhari, Jimah bisa membuat 20 meter stagen hitam biasa, yang dijual ke pengepul Rp20.000 per 10 meter. Mayoritas warga desa berpenghasilan dari tenun. Ada juga bertani dan menambang batu dan pasir di Sungai Progo, namun tetap menenun.

Pada 2013, ada Dreamdelion, ke desa mereka menambah pengetahuan dan penghasilan penenun. Dreamdelion ini komunitas anak muda Yogyakarta yang fokus pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan bisnis lokal dilatarbelakangi persoalan sosial ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lingkungan.

Awalnya, Jimah pesimis kehadiran anak-anak muda ini bisa meningkatkan penghasilan warga dari tenun. Berbekal sosialisasi Dreamdelion di forum-forum arisan warga, Jimah menaruh optimistis.

Penenun mulai dikenalkan pewarna alam, dari tanaman khas di desa. Dari jati, nangka, mengkudu dan mahoni. Dia belajar mengolah, mewarnai benang dan belajar motif warna alami untuk tenun. Awalnya sulit, perlu waktu lebih lama menghasilkan warna alam. Makin tua warna, makin lama proses. Perlu dicelup dan dikeringkan berulang kali.

Sekarang, Jimah lancar membuat tenun warna. Harga jual lebih mahal. Permeter tenun warna Rp20.000. Tenun warna atau rainbow stagen, dikreasikan dalam bentuk tas, bross, dompet dan sepatu dengan sasaran anak muda.

“Harga lebih baik, pembelian masih tergantung pesanan.” Dia berharap, makin banyak memakai dan ikut melestarikan tenun.

Penenun rainbow stagen lain, Sumirah juga meneruskan warisan turun-temurun keluarga. Kini, dia membuat tas, dompet dan bross tenun. Walau serat benang belum bisa produksi sendiri tetapi mewarnai benang dengan pewarna alam.

Dia berharap, pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap aset Yogyakarta ini. “Semoga tradisi menenun tak hilang. Kesejahteraan penenun harus makin baik,” harap Sumirah.

Source http://www.mongabay.co.id http://www.mongabay.co.id/2016/02/25/tenunan-pewarna-alam-dari-desa-sumberarum/
Comments
Loading...