Kerajinan Tenun Sutra Di Soppeng

0 301

Kerajinan Tenun Sutra Di Soppeng

Apalagi jika melihat angka pendistribusian telur ulat sutra pada 1990-an. Waktu itu PSA Soppeng pernah menjual telur ulat sutra sebanyak 35.633 boks selama satu tahun dan mampu memproduksi sebanyak 142 ton benang sutra. Jumlah tersebut anjlok menjadi 13.000 boks pada 2007 dan angkanya terus menurun hingga sekarang.

Penurunan permintaan itulah yang secara perlahan membuat pengrajin tenun sutra Bugis punah. Padahal, jika dilihat dari kacamata budaya, pembuatan tenun sutra Bugis, dari pemintalan benang sutra hingga lembaran kain halus berwarna-warni itu jadi, merupakan warisan bernilai tinggi yang tidak bisa ditemui di daerah lain.

Para petani ulat sutra Sulawesi, masih menggunakan cara tradisional untuk mendapatkan benang dari kokon. Untuk menjadi benang, kokon terlebih dahulu melewati proses penjemuran matahari atau pemasakan dengan cara dikukus atau direbus. Pemasakan ini gunanya mematikan pupa atau larva pada kokon.

“Bila tidak dilakukan pemasakan, larva akan hidup dan merusak dinding kokon,” papar Kamaruddin. Setelah kokon matang baru kemudian dilakukan pemintalan kokon menjadi benang sutra.

Petani ulat sutra di Sulawesi umumnya menggunakan cara-cara tradisional dengan cukup merebus kokon sekitar 15 menit, lalu didinginkan. Setelah bahan perekat pada kokon terlepas, mereka segera mencari ujung-ujung benang untuk kemudian dipintal menjadi benang. Prosesnya sangat cepat dan sederhana. Tetapi tidak semudah kita melihat bila bukan ahlinya.

Dari petani, benang kemudian dijual kepada pengrajin tenun. Salah satu pengrajin yang berasal dari Kampung Tajuncu, Desa Donri-Donri, Kabupaten Soppeng, Baharu, mengatakan benang sutra dibeli seharga Rp300.000-Rp350.000 per kg. “Untuk satu kain sarung menghabiskan 250 gram benang sutra,” terangnya.

Setelah mendapatkan benang, para penenun tidak langsung menempatkannya di alat tenun, melainkan kembali dimasak untuk menghilangkan serishin (sejenis perekat) dan sekaligus memudahkan pewarnaan. Pemasakan benang dilakukan sedikitnya satu jam dengan cara sederhana.

“Air diberi sedikit sabun beku dan deterjen lalu dimasak hingga mendidih baru kemudian benang di celupkan. Benang terus diaduk dengan cara diangkat dan diturunkan berulang-ulang,” papar Baharu.Seperti layaknya proses pewarnaan yang dilakukan pengrajin tenun di daerah lain, di Soppeng, proses pewarnaan dilakukan dengan cara direbus lalu dijemur. “Setelah kering benang bisa langsung di-bobbin (alat penggulungan benang) untuk kemudian ditenun,” sambungnya.

Penenun sutra di Soppeng masih menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). “Ada yang berukuran besar dan kecil,” terang Baharu. “Yang besar untuk kain besar, seperti sarung dan yang kecil untuk kain selendang atau syal,” lanjutnya.

Berbeda dengan pengrajin tenun ikat di Flores yang alat tenunnya merupakan warisan turun-temurun, pengrajin tenun sutra Soppeng membeli alat tenun mereka. Alat tenun ukuran besar dibeli dengan harga Rp1,5 juta dan yang berukuran kecil dibeli seharga Rp750 ribu.

Baharu menjelaskan satu alat tenun mampu menghasilkan 3-4 meter kain perhari, bila dikerjakan terus menerus tanpa istirahat. Tenun sarung dikerjakan selama satu minggu.

“Kami hanya menggunakan benang sutra, kami tidak mencampur benang dengan jenis benang apapun. Karena kami ingin tetap mempertahankan kualitas tenun sutra Soppeng atau Sutra Sulawesi,” ujar Baharu. Ia menambahkan kain tenun sutra yang mereka hasilkan merupakan kain untuk digunakan sehari-hari ataupun untuk keperluan pesta.

Menyoal pengrajin tenun sutra Soppeng yang sudah semakin jarang, Baharu mengatakan sebenarnya tenun sutra masih memiliki harapan untuk bangkit kembali.

“Saat ini harga sutra sudah mulai membaik dibandingkan sebelumnya yang jatuh bangun. Dulu, biaya ternak sudah mahal, tetapi harga benang turun. Tetapi sekarang sudah kembali membaik. Saya mengharap petani mulai melirik kembali ke sutra,” katanya.

Saat ini di kota Soppeng hanya ada satu atau dua orang saja yang menenun. Mereka yang dulu menekuni tenun sutra, kini beralih pada pekerjaan yang menjanjikan, mereka memilih komoditi lain, seperti padi dan jagung. Padahal, dari segi material, ulat sutra jauh lebih murah, terlebih kini pemerintah memberi subsidi sehingga petani sutra bisa mendapatkan ulat sutra secara gratis.

“Sekarang sebenarnya lebih mudah mendapatkan bahan. Bibit ulat sutra tersedia cukup banyak di Perhutani PSA Soppeng, hanya saja petaninya yang sudah tidak ada,” cerita Baharu, yang bercita-cita mengajak generasi muda untuk melestarikan tenun sutra Soppeng. “Di Soppeng banyak sarjana muda yang berhasil menjadi sarjana karena sutra,” pungkasnya

Source http://m.inilah.com http://m.inilah.com/news/detail/1806242/tenun-sutra-bugis-akan-bangkit-kembali
Comments
Loading...