Kerajinan Terindak Di Belitung Timur

0 222

Kerajinan Terindak Di Belitung Timur

Meski memiliki latar masa lalu sebagai daerah tambang, masyarakat Pulau Belitung sudah mengenal caping sejak lama. Caping khas Belitung yang disebut terindak dulunya memang hanya digunakan oleh kaun tani dan nelayan di pulau ini. Sebab dahulu, di masa perusahaan PT Timah, pegawai di lokasi tambang tak ada yang menggunakan terindak. Perusahaan itu mewajibkan karyawannya memakai helm proyek untuk keselamatan saat bertugas.

Namun kini, pengguna terindak di Belitung bukan sebatas petani dan nelayan. Tapi, banyak pekerja tambang inkonvensional atau tambang timah rakyat yang menggunakan terindak saat bekerja, sekedar untuk melindungi wajah dari sengatan matahari.

Terindak Belitong ini dibuat dari daun tumbuhan mengkuang (Pandanus sp). Tumbuhan dengan daun panjang dan berduri ini memang banyak dijumpai di rawa-rawa dan sekitar aliran sungai di Pulau Belitung. Oleh masyarakat tradisional Belitung, daun mengkuang selain dibuat terindak, biasa pula diolah sebagai bahan baku tikar, mentudong (tudung saji) dan ambin (wadah memanen padi).

Dahulu, banyak pengrajin terindak di perkampungan Pulau Belitung. Mereka membuat terindak selain buat dipakai sendiri, juga atas pesanan orang lain. Pesanan terindak kebanyakan dari kaum peladang tradisional yang memiliki ume (huma) ataupun petani kebun sahang.

Jumlah pengrajin terindak kini memang telah jauh berkurang. Banyak diantara mereka yang telah meninggal dunia. Namun diantaranya, ada yang mewariskan ilmu membuat terindak ini kepada anggota keluarganya yang bermanfaat hingga kini.

Matsyarif, warga RT 26 Dusun Langkang Gantung, Belitung Timur, barangkali salah satu sosok pengrajin terindak yang masih setia menekuni kerajinan tradisional ini. Kepandaian membuat terindak itu diperoleh dari ibunya sejak dirinya masih kecil.

Sewaktu kecil, Matsyarif sering diajak ibunya mencari daun mengkuang di kampungnya. Orang Belitung  menyebutnya marang daun. Diam-diam ia pun memperhatikan cara ibunya membuat terindak. Dari cara mengambil daun, membersihkan duri hingga merangkai daun dengan tali nilon dan rotan dipelajarinya. Akhirnya, ia pun mahir mempraktekkannya sendiri.

Seperti kata orang bijak, ilmu yang bermanfaat adalah warisan yang paling berharga. Dan hal ini sudah dibuktikan Masyarif. Tatkala ia pensiun dari perusahaan timah di Bangka dua tahun silam, kepandaian membuat terindak menjadi mata pencaharian baru baginya.

Membuat terindak saat ini menjadi kesibukan yang mengasyikkan bagi Matsyarif. Selain memanfaatkan waktu senggang di hari tua, pria yang dipercaya sebagai tetua adat di kampungnya itu, bisa mendapat penghasilan dari usaha membuat terindak.

Sebuah terindak ukuran besar bisa laku seharga Rp 15.000. Sedangkan yang berukuran kecil seharga Rp 12.000. Karena usaha ini dikerjakannya seorang diri, dalam sehari Matsyarif hanya mampu membuat dua buah terindak.

“Alhamdulillah Pak, lumayan buat tambahan untuk biaya anak kuliah, “ ujar bapak lima orang anak ini. Seorang anaknya, kini memang masih kuliah di Akademi Keperawatan, Tanjungpandan.

Matsyarif mengaku masih kesulitan untuk mengembangkan usahanya. Selain karena faktor modal, belum ada warga lain yang berminat belajar membuat terindak. Bilapun ada, untuk melatih kemahiran pengrajin baru itu butuh bimbingan yang intensif.

Source https://suarbelitong.wordpress.com https://suarbelitong.wordpress.com/2008/05/01/mengolah-daun-mengkuang-jadi-terindak/
Comments
Loading...