Kerajinan Tikar Karya Nenek Di Kayong Utara

0 152

Kerajinan Tikar Karya Nenek Di Kayong Utara

Dulu kerja batu, kerja pasir namun kini berubah profesi menjadi pengrajin tikar pandan tanpa merusak hutan (untuk keberlanjutan hutan), itulah profesi baru Savina sehari-harinya, saya berkesempatan berkunjung ke rumahnya untuk mengobrol ringan tentang profesi barunya itu.

Panas terik, terkadang hujan itulah yang Vina rasakan saat-saat kerja batu dan pasir dulu. Jarang di rumah dan terkadang mengikuti suaminya dari satu tempat ke tempat yang lainnya diKayong Utara.

Ia bersama suaminya Hata dari tahun ke tahun melakoni pekerjaan ini hingga tahun 2014. Waktu jarang di rumah, terkadang membuat Vina tidak sering bertemu cucunya karena terkadang Ia bersama suaminya berada di tempat lainnya dan jauh dari rumah. Rasa itu menjadi salah satu alasannya untuk beralih profesi menjadi pengrajin tikar pandan.

Sejatinya, Vina telah sejak kecil menganyam sejak usia remaja. Ia diajari oleh ibunya menganyam ketika itu. Dulu, menurut Nenek empat cucu tersebut semua remaja harus bisa menganyam, jika tidak bisa menganyam belum boleh menikah atau berkeluarga.

Awal mula Vina berubah kerja atau alih profesi dari kerja batu dan pasir menjadi pengrajin adalah ketika bertemu dengan Ida dan diajak untuk bergabung menjadi kelompok untuk menganyam.

Sudah kurang lebih satu tahun Vina bersama Ida menganyam aneka anyaman tikar pandan, anting-anting pandan, gelang pandan dan tas pandan serta aksesoris lainnya seperti tempat tisu dan juga gantungan kunci.

Hata sebagai suami Vina mengaku sangat mendukung dan senang Istrinya menjadi pengrajin tikar pandan. Lebih lanjut, Hata berujar menganyam tikar pandan kegiatan yang positif dan halal sebagai mata pencarian alternatif.

Seperti diketahui, Ida merupakan salah seorang pengrajin yang memiliki keahlian menganyam (pelatih) mampu serta mau mengajarkan (belajar bersama) menganyam dan berinovasi dalam menganyam di Kayong Utara. Ida juga sering kali dipercaya untuk melatih di beberbagai tempat seperti di Papua tahun lalu.

Seperti diketahui, Ida juga sebagai salah seorang ketua kelompok pengrajin di Tanah Kayong (KKU) yang mulanya didampingi oleh Yayasan Palung dan didukung penuh oleh dekranasda bersama Pemerintah Daerah KKU. Kini kelompok Ida telah memiliki wadah atau tempat dengan nama Ida Craft.

Vina bercerita, selama bergabung dengan kelompok Ida dan kawan-kawan yang berjumlah 12 orang, Ia tidak lagi harus kerja berat menjadi tukang batu ataupun menambang pasir. Menganyam menjadi pekerjaan yang ringan dan tidak harus kerja keras.

Sudah kurang lebih satu tahun Vina bersama Ida menganyam aneka anyaman tikar pandan, anting-anting pandan, gelang pandan dan tas pandan serta aksesoris lainnya seperti tempat tisu dan juga gantungan kunci.

Hata sebagai suami Vina mengaku sangat mendukung dan senang Istrinya menjadi pengrajin tikar pandan. Lebih lanjut, Hata berujar menganyam tikar pandan kegiatan yang positif dan halal sebagai mata pencarian alternatif.

Seperti diketahui, Ida merupakan salah seorang pengrajin yang memiliki keahlian menganyam (pelatih) mampu serta mau mengajarkan (belajar bersama) menganyam dan berinovasi dalam menganyam di Kayong Utara. Ida juga sering kali dipercaya untuk melatih di beberbagai tempat seperti di Papua tahun lalu.

Seperti diketahui, Ida juga sebagai salah seorang ketua kelompok pengrajin di Tanah Kayong (KKU) yang mulanya didampingi oleh Yayasan Palung dan didukung penuh oleh dekranasda bersama Pemerintah Daerah KKU. Kini kelompok Ida telah memiliki wadah atau tempat dengan nama Ida Craft.

Vina bercerita, selama bergabung dengan kelompok Ida dan kawan-kawan yang berjumlah 12 orang, Ia tidak lagi harus kerja berat menjadi tukang batu ataupun menambang pasir. Menganyam menjadi pekerjaan yang ringan dan tidak harus kerja keras.

Cerita sukses Ibu Vina sedikit banyak memberi kontribusi penting bagi keberlanjutan hutan di sekitar kawasan hutan dan habitat orangutan di Taman Nasional Gunung Palung (TNGP).

Tidak hanya itu, keberhasilan ibu Vina menjadi pengrajin anyaman pandan murni kesadaran dari dirinya dan penyemangat bahwa menjadi pengrajin anyaman tikar pandan sebagai salah satu alternatif tanpa harus merusak hutan.

Ibu Vina mengaku, Ia selalu senang belajar bersama. Keberhasilan lainnya dari Ibu Vina adalah, ia berhasil mengajak orang di sekitarnya untuk mengubah profesi dari pekerjaan tukang batu/kerja batu menjadi pengrajin tikar. Salah satu pengrajin baru yang berhasil diajak oleh ibu Vina adalah Ibu Susi.

Untuk penghasilan dari menganyam tikar pandan, ibu Vina mengaku sangat membantu penghasilannya sehari-hari atau bisa dikata, pengahsilan bekerja batu sama dengan penghasilan ia menganya.

Selain menganyam tidak kerja berat (ringan) dibanding bekerja batu dan pasir yang sangat berat dan beresiko tinggi, ujarnya. Dengan kata lain, dengan menganyam, mereka (pengrajin) menjaga tanaman di sekitar hutan terlebih tanaman pandan. Sampai saat ini, para pengrajin anyaman hasil hutan bukan kayu (hhbk) di Kayong Utara mendapt perhatian khusus dari pemerintah daerah, Yayasan Palung dan dekranasda KKU.

Source https://yayasanpalung.wordpress.com https://yayasanpalung.wordpress.com/2016/02/11/inilah-kisah-seorang-nenek-tukang-batu-beralih-jadi-pengrajin-tikar-di-kayong-utara/
Comments
Loading...