Kerajinan Tikar Lipat Di Lamongan

0 188

Kerajinan Tikar Lipat Di Lamongan

Lamongan terkenal sebagai salah satu sentra pembuatan tikar lipat. Di kota ini, masyarakat secara turun temurun membuat tikar lipat sebagai usaha utama maupun usaha sambilan. Sebagai alas duduk atau tidur, tikar lipat menjadi alas multiguna. Salah satu produsen tikar lipat di Lamongan mengaku bisa mendapatkan omzet mencapai Rp 160 juta per bulan dari bisnis ini.

Kota Lamongan tak hanya terkenal dengan soto dan pecel lele. Kota di Jawa Timur yang sering kebanjiran ini juga terkenal sebagai sentra penghasil tikar lipat.

Tikar made in Lamongan, yang merupakan hasil anyaman tali rafia, memang sudah kondang. Tikar ini tidak hanya dipasarkan di dalam negeri, tapi juga sudah merambah ke beberapa negara tetangga, seperti Malaysia dan Taiwan.

Salah satu produsen tikar lipat yang kondang di Lamongan adalah UD Nimaz milik Siti Naimah. Kalau menilik jumlah pekerja yang mencapai 730 orang, usaha Siti memang lumayan besar. Siti mendirikan UD Nimaz ini pada 1995 silam.

Menurut Siti, Lamongan memang merupakan salah satu penghasil kerajinan tenun tikar lipat multiguna terbesar di Indonesia. Buktinya, di kota ini banyak sekali industri rumahan atau home industry yang memproduksi tikar lipat.

Produksi tikar lipat asal Lamongan juga sudah menyebar ke seluruh Indonesia. Tikar lipat ini gampang ditemui di pasar-pasar Cirebon, Tegal, Tasikmalaya, dan Kebumen. “Tapi, pasar utama saya adalah kawasan Pantura,” katanya.

Selain melayani pembelian partai besar, Siti juga melayani pembelian eceran. Saat ini Siti memproduksi tiga ukuran tikar lipat, yakni ukuran 2×3 meter, ukuran 2×2 meter, dan ukuran 2×1 meter.

Harga produk tikar lipat bervariasi tergantung ukuran. Untuk ukuran 2×3 meter, harga di tingkat distributor mencapai Rp 48.000 per lembar. Adapun untuk tikar ukuran 2×2 meter dan 2×1 meter harganya masing-masing sebesar Rp 32.000 dan Rp 16.000 per lembar. “Di tingkat distributor lebih murah karena mereka membeli dalam jumlah banyak,” kata Siti.

Saat ini, dalam sehari Siti mampu memproduksi 250 tikar. Dengan produksi sebanyak itu, Siti pun mampu meraup omzet hingga sebesar Rp 160 juta per bulan.

Menurut Siti, harga tikar lipat buatannya sedikit lebih mahal karena semua prosesnya dibuat dengan tangan atau¬†handmade. Satu lembar tikar ukuran 2×3 meter membutuhkan bahan baku sekitar 20 kg tali rafia.

Sebenarnya, Siti bisa memproduksi lebih banyak tikar lipat. Namun, karena kebanyakan pekerjanya diupah dengan sistem borongan maka produksinya terbatas.


Bahkan, kalau musim panen tiba, Siti mengaku produksinya menurun. “Mayoritas pekerja kami adalah petani. Sehingga jika musim panen atau musim tanam tiba, mereka lebih memilih mengurus sawah,” katanya.

Untuk membuat tikar lipat ini memang membutuhkan ketrampilan dan ketelitian. Seorang pekerja membutuhkan waktu sekitar empat hari untuk menyelesaikan tikar lipat berukuran 2×3 meter. Proses menganyam akan lebih cepat jika pekerja benar-benar sudah terampil dan ahli. “Semakin sering mencoba, semakin cepat pengerjaannya,” ungkap Siti.

Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, Siti memproduksi tali rafia sendiri. Kini, Siti sudah mempunyai dua mesin pembuat tali rafia.

Dengan memproduksi tali rafia sendiri, Siti bisa meraup margin lebih besar karena biaya produksi untuk membeli bahan baku menjadi lebih murah. Selain itu, dia juga bisa menjaga kualitas bahan baku.

Dari dua mesin tali rafia itu, Siti bisa menghasilkan sekitar 500 kg tali tiap kali produksi. Untuk memproduksi tali rafia sebanyak itu, Siti membutuhkan bahan baku sekitar 7 ton bijih plastik yang dibelinya dari pemasok di Surabaya. “Satu kilogram biji plastik harganya Rp 6.000,” katanya.

Selain Siti Naimah, pengusaha tikar lipat lainnya di Lamongan adalah Syaiful Wakhid. Dia mengaku mulai menekuni bisnis ini sejak lima tahun silam. Namun, berkat kerja kerasnya, usaha tikar lipatnya itu kini berkembang pesat.

Saban bulan, Syaiful setidaknya bisa mengantongi omzet sebesar Rp 120 juta. Omzet sebesar itu dia dapat dari penjualan 2.000 tikar per bulan.

Namun, harga tikar produksi Syaiful lebih mahal dibanding produk Siti. Untuk ukuran tikar 2 m x 3 m, Syaiful menjual dengan harga Rp 60.000 per lebar. Sedangkan tikar ukuran 1 m x 2 m harganya cuma Rp 35.000 saja.

Jika Siti memiliki pasar utama di daerah Pantura, Syaiful memilih menjual produk tikar lipatnya keluar Jawa, seperti Kalimantan dan Sulawesi. Bahkan, Syaiful juga melayani permintaan ekspor tikar ke Malaysia dan Taiwan.

Untuk meningkatkan penjualan, dia juga menawarkan layanan pembuatan tikar lipat dengan motif dan ukuran sesuai pesanan pelanggan. Layanan ini biasanya untuk memenuhi permintaan khusus yang datang dari pengelola masjid.

Seperti juga Siti, Syaiful juga memproduksi sendiri bahan baku rafia untuk usahanya. Karena itulah, dia mengaku tidak mengalami kesulitan bahan baku tikar. “Kami sudah memiliki mesin pembuatan tali rafia sendiri jadi kami tidak menemui kendala dalam pembuatan tikar ini,” ucapnya.

Syaiful mengungkapkan, bagi warga Lamongan, membuat tikar lipat ini adalah keterampilan turun-temurun. Itulah sebabnya banyak orang Lamongan yang terampil menganyam tikar. Nah, belakangan ini, keterampilan itu ternyata bisa mendatangkan duit. Alhasil, ada yang menjadikan kepiawaian menganyam tikar ini sebagai pekerjaan utama, atau sekadar usaha sampingan. Jadi, tak aneh kalau produksi menurun di saat musim tanam.

Source https://tetapadapeluang.blogspot.com https://tetapadapeluang.blogspot.com/2011/07/peluang-bisnis-tikar-lipat.html
Comments
Loading...