Kerajinan Tikar Tolaki Di Sulawesi Tenggara

0 372

Kerajinan Tikar Tolaki Di Sulawesi Tenggara

Dahulu kala, tikar Tolaki merupakan kerajinan yang sangat digemari oleh masyarakat. Tidak lengkap rasanya sebuah keluarga yang menghuni suatu rumah tidak memiliki tikar khas ini. Sehingga tak heran, dahulu para pendatang di daerah Sulawesi Tenggara biasa menjumpai tikar tolaki di setiap rumah yang mereka kunjungi. Namun sayang pemandangan itu kini makin sulit ditemui.

 

Pembuatan tikar pada masyarakat tradisional

 

Membuat tikar merupakan satu bentuk kerajinan yang dikuasai oleh masyarakat Tolaki di sekitar TNRAW, Sulawesi Tenggara. Keterampilan ini dimiliki masyarakat turun-temurun dan telah menyatu dengan sistem kebudayaan setempat. Tikar bukan hanya barang yang dipakai sebagai alas tidur atau tempat duduk-duduk saja, lebih dari itu tikar tolaki memiliki nilai intrinsik yang sangat dihargai. Suku tolaki menggunakannya dalam bernagai upacara adat yang mereka selenggarakan, seperti pada pesta adat perkawinan, panen atau menyambut tamu.

 

Miyah mengatakan di dalam masyarakat tradisional tolaki, terdapat pembagian kerja tersendiri. Ketika ingin membuat tikar, seorang suami mencari bahan baku tikar dari hutan. Bahan baku yang diambil tergantung jenis tikar yang akan dibuat, dapat berupa daun agel atau daun pandan. Selanjutnya bahan-bahan itu dijemur sampai kering, baru dibawa pulang. Dari sini menjadi kewajiban seorang istri untuk menganyam bahan-bahan yang di bawa pulang oleh suaminya. Proses pembuatan ini tidak memakan waktu lama karena jumlah tikar yang dibuat sedikit. Hasilnya hanya digunakan untuk keperluan sehari-hari oleh keluarga yang bersangkutan. Terkecuali jika ingin mengadakan pesta adat, tikar yang dibuat lebih banyak.

Terdapat perbedaan penampilan fisik tikar adat dengan tikar biasa. Corak maupun motif tikar untuk keperluan adat lebih menonjol dengan menggunakan bahan-bahan pilihan. Warna-warna kontras menjadi salah satu karakteristik yang menyusun pola-pola tertentu pada tikar. Tikar untuk keperluan adat terkadang menampilkan kombinasi beberapa segi empat dengan ukuran sisi yang berbeda bergabung menjadi satu. Masing-masing segi empat menampilkan warna-warna yang berbeda sehingga nilai artistik lebih tampak pada permukaan tikar.

 

Tikar untuk keperluan sehari-hari biasanya polos, tanpa kombinasi warna bahan yang berarti. Kualitas bahannya pun kurang memperhatikan persyaratan kualitas bahan yang tinggi. Sehingga produk tikar yang dihasilkan pada umumnya lebih kasar, tipis dan kurang awet. Produk seperti ini digunakan untuk alas dipan, penutup jendela maupun tempat berkumpulnya anggota keluarga ketika sedang beristirahat.

Teknik pembuatan tikar

  • Pemanenan dilakukan terhadap pohon agel/pandan. Pekerjaan dilakukan dengan cara mengambil daun-daun yang telah berumur remaja (tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua).
  • Setelah dipanen, daun kemudian dijemur selama sehari semalam.
  • Setelah daun lembab dan layu, kemudian digulung membentuk lingkaran-lingkaran besar.
  • Dengan menggunakan alat berupa mata cutter yang lebarnya disesuaikan dengan lebar anyaman yang akan dibuat, maka daun-daun agel/pandan dibelah sesuai dengan lebar anyaman yang akan dibuat.
  • Setelah daun-daun terbelah dalam ukuran-ukuran yang sama maka daun–daun agel/pandan siap dianyam. Untuk tikar dengan modifikasi khusus seperti warna maka dilakukan pengolahan lanjutan.
  • Selain itu juga terdapat modifikasi berupa kain pelapis yang dijahit di bagian tepi-tepi tikar.
Source https://tnrawku.wordpress.com https://tnrawku.wordpress.com/2012/01/10/tikar-tolaki-potret-makin-terlupakannya-kerajinan-rakyat-sekitar-tnraw/
Comments
Loading...