Kerajinan Tikar Tradisional Di Desa Karang

0 196
Kerajinan Tikar Tradisional Di Desa Karang

Jemari yang tak lagi muda, begitu lincah menyusun satu demi satu lembaran pandan duri yang dianyam menjadi tikar. Itulah ibu Sumiatun (53 tahun), warga Dusun Karang Desa Ngambon Kecamatan Ngambon. Nenek 6 cucu itu dengan cekatan menyelesaikan tugasnya membuat kerajinan tangan tikar tradisional. Selain untuk menambah penghasilan, juga dimanfaatkan sebagai penghilang rasa bosan. “Mboten ngemenke kok, gus. Lha wong namung kangge ngisi wektu kemawon (tidak memaksakan kok, mas, hanya untuk mengisi waktu luang saja)”, ucapnya sambil menganyam tikar. “Bahane mawon saking tegale piyambak (bahannya saja berasal dari sawah sendiri)”, tambahnya. Dalam seminggu, beliau mampu menyelesaikan 4-5 lembar tikar berukuran 1×1,5 m. Beliau mengakui, prosesnya sederhana tetapi membutuhkan waktu yang cukup lama.

Setelah daun diambil dari pohonnya, kemudian dibersihkan permukaannya agar lentur dan dipecah kurang lebih selebar 1,5 cm. Kemudian dianyam dan dijemur di bawah sinar matahari setelah tikar jadi. Biasanya hasil anyaman dijajakan di pertigaan SMPN 1 Ngambon setiap hari pasaran legi. Harganya bervariasi mulai dari Rp. 11.000,00 sampai Rp. 18.000,00 per lembarnya. “Niku mawon kadang tasik dienyang (segitu saja masih ditawar)”, sahutnya sambil tersenyum. Calon pembelinya biasanya dari tengkulak maupun dari warga sekitar.

Source http://kimdjanggleng.blogspot.com http://kimdjanggleng.blogspot.com/2014/05/sumiatun-pengrajin-tikar-tradisional.html
Comments
Loading...