Kerajinan Topeng Ganongan Di Ponorogo

0 112

Kerajinan Topeng Ganongan Di Ponorogo

Tak lengkap rasanya menyaksikan Reog Ponorogo tanpa Bujang Ganong. Tarian ini selalu ditunggu-tunggu karena sosok Bujang Ganong digambarkan kocak sekaligus pandai bela diri.

Salah satu aksesoris yang wajib dikenakan penari Bujang Ganong adalah pemakaian topeng Ganongan. Topeng yang berwarna khas dengan merah menyala dan adanya rambut yang terbuat dari ekor kuda ini pun menjadi ikon bagi penari Bujang Ganong.

“Penari Bujang Ganong selalu memakai topeng Ganongan. Digambarkan seorang panglima yang meskipun secara fisik cenderung buruk rupa, tapi mempunyai kualitas yang tinggi,” tutur Priyono, seorang seniman topeng Ganongan.

Priyono menuturkan ia sudah menjalankan profesi sebagai seniman sekaligus pembuat topeng Ganongan sejak 16 tahun yang lalu. Berawal dari kecintaannya terhadap kesenian reog membawanya mendalami kesenian topeng Bujang Ganong.

“Dalam pembuatannya pun topeng Ganongan juga mempunyai pakem,” jelasnya.

Seperti kayu yang digunakan, lanjutnya, harus menggunakan kayu dadap sedangkan rambut pada topeng menggunakan ekor kuda. “Warnanya pun harus merah menyala, karena digambarkan buruk rupa lengkap dengan mata melotot dan hidung yang besar dan gigi yang keliatan,” terangnya.

Namun Priyono menjelaskan seiring perkembangan zaman, saat ini sudah banyak ditemukan topeng Ganongan berwarna hitam atau putih. “Namun pakemnya tadi masih digunakan, seperti bentuk mata, hidung dan mulut,” ujarnya.

Priyono menambahkan dalam satu hari ia mampu memproduksi empat topeng. Harga masing-masing topeng bervariasi mulai dari Rp 400 ribu-1 juta tergantung keinginan pemesan.

“Dalam sebulan biasanya pesanan bisa 20 topeng dengan berbagai macam pesanan. Biasanya pemesan banyak saat lebaran dan Grebeg Suro,” imbuhnya.

Pria berusia 42 tahun itu mengaku pernah mengirim topeng hasil karyanya ke seluruh Indonesia, dan pemesan paling jauh yang ia terima berasal dari Kalimantan Barat. “Pemasaran biasanya dijual ke pedagang cenderamata dan online,” tambahnya.

Sementara itu, perajin topeng Ganongan lainnya, Tatang warga Desa Nambangrejo, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo mengaku menekuni usaha membuat topeng ini bersama sang ayah sejak tahun 2011.

“Awalnya hanya mengecat Ganongan karena ingin memenuhi biaya sekolah, tapi karena sudah sering melihat bentuk Ganongan, coba-coba buat sendiri bersama ayah di rumah,” ujarnya.

Namun berbeda dengan Priyono, Tatang hanya membuat Ganongan yang masih setengah jadi, yaitu memahat bentuk muka dari Ganongan, lalu dijemur selama sehari penuh di bawah sinar matahari terik, didempul dan terakhir diamplas.

Seusai itu ia menjualnya ke pengepul yang datang ke rumahnya dua kali dalam sebulan. “Satu Ganongan yang masih setengah jadi dijual dengan harga Rp 15 ribu,” lanjutnya.

Ditanya kenapa tidak menjual Ganongan yang sudah jadi, Tatang hanya tersenyum kecil sembari menjawab tidak ada lagi tenaga atau pekerja yang mau membantu membuat Ganongan.

Sesuai dengan pakemnya, Tatang juga membuat topeng Ganongan dari bahan kayu dadap. Akan tetapi pria ini menambahkan, kayu tersebut memang memiliki serat yang bagus sehingga mudah dipahat sesuai keinginan.

Dalam sehari Tatang mengaku mampu membuat 10 Ganongan setengah jadi. “Pemasarannya biasanya ke Paju, Sumoroto dan Ponorogo Kota, yang paling jauh ke Ngawi,” pungkasnya.

Source https://news.detik.com https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3898567/cerita-di-balik-perajin-topeng-ganongan-di-ponorogo
Comments
Loading...