Kerajinan Topeng Kertas Di Surabaya

0 448

Kerajinan Topeng Kertas Di Surabaya

Kala Indonesia berjuang mencapai kemerdekaan di tahun 1945, tidak semua orang ikut turun ke jalan sambil membawa bambu runcing dan memekikkan kata-kata yang mengobarkan semangat perjuangan. Sebagian lagi berjuang memajukan ekonomi warga sekitar dengan membuat komoditi khas yang dikenal di mana-mana. Mereka adalah warga kampung Girilaya, Surabaya.

Pada masa itu kebanyakan warga kampung Girilaya, sejak gang I sampai X, adalah perajin topeng kertas. Mereka membuat cetakan topeng dari semen, kemudian melapisinya dengan tiga lapis kertas, lalu diwarnai sehingga tampilannya menarik. Lapisan pertama topeng adalah kertas-kertas bekas seperti Koran, lapisan kedua kertas yang lebih tebal seperti kertas map, baru yang paling luar lapisan kertas yang putih polos. Agar merekat sempurna, yang digunakan adalah rebusan lem kanji.

Hasil-hasil cetakan itu kemudian dijemur di bawah sinar matahari sampai kering, lalu dilepas dari cetakan semennya. Barulah proses pewarnaan dengan cat minyak yang berwarna-warni ceria, dilakukan. Terkadang, hasil itu masih memerlukan finishing. Aksesori seperti lidah yang menjulur, rumbai-rumbai rambut singa, ditambahkan. Dan topeng-topeng itu pun siap dijual. Meskipun terbuat dari kertas, topeng itu cukup awet karena telah terlapisi cat minyak.

Namun bayangan ramainya gang-gang kecil Girilaya oleh warna-warni topeng kertas yang dijemur di depan masing-masing rumah, juga lalu lalangnya para pembeli di rumah-rumah itu, telah berlalu. Sebagian besar perajin topeng kertas di sana telah gulung tikar. Makin melonjaknya harga bahan baku menjadi salah satu alasannya. Belum lagi zaman semakin memarjinalkan mereka. Kemeriahan kampung topeng di gang-gang sempit itu hanya tersisa di rumah Choirul Anam, Jalan Girilaya VII/ 21.

Anam saat ini menjadi satu-satunya yang masih bertahan sebagai perajin topeng kertas. Di rumahnya yang asli bangunan lawas, setiap hari ia masih memproduksi topeng kertas beraneka rupa. Cetakan semennya juga masih bertahan bertahun-tahun. Ketika ada uang lebih atau bentuk baru, barulah ia membuat lagi. Tokoh-tokoh film anak-anak masa kini turut mewarnai keragaman bentuk topeng. Produksi Anam tidak lagi hanya binatang dan monster, tetapi juga boneka teletubbies, Upin Ipin, sampai Spiderman.

Dalam sehari, dengan dua pekerja, Anam bisa menghasilkan lebih dari 20 buah topeng. Stok topeng itu biasanya ia simpan di ruang tengah rumahnya. Sejak pukul 6 pagi, produksi topeng kertas dimulai. Kalau banyak pesanan ia harus melembur sampai malam. Ia telah mempersiapkan topeng untuk momen tertentu, sejak beberapa bulan sebelumya. Ini lagi bikin untuk puasaan. Di sini memang setiap hari bikin terus, kisahnya.

Topeng kertas saat ini memang hanya laku pada momen-momen tertentu. Seperti saat Maulid Nabi Muhammad SAW, bulan puasa, tahun baru, dan 17 Agustus. Beruntung pembelinya masih banyak, terutama dari luar kota. Yang beli orang Sidoarjo, Krian, Porong, ada juga yang dari luar pulau, terang Anam. Bentuk yang paling laku dijual biasanya harimau dan serigala. Namun tahun ini, kata Anam, topeng kelinci lebih banyak terjual.

Bapak dua anak itu menambahkan, orang luar pulau biasanya membeli banyak topeng kertas saat tahun baru. Selain berjualan terompet, mereka juga memperdagangkan topeng asli Girilaya. Beberapa di antara mereka membayar tunai, tetapi ada juga yang membayar sebagian di awal dan sisanya di akhir. Padahal, untuk pengiriman ke sana Anam harus mengepak dan mengirim dengan merogoh koceknya sendiri.

Topeng kertas yang biasa dibuat mainan anak-anak, dipakai sebagai topeng wajah, dibanderol dengan harga Rp 55 ribu per satu kodi, isinya 20 topeng. Sedangkan topeng yang berukuran besar, biasa dipakai satu kepala penuh, harganya sekitar Rp 7 ribu per buah. Anam juga menerima pesanan bentuk khusus, namun harga lebih mahal, Rp 150 ribu.

Sekali musim, Anam bisa meraup omzet Rp 7 juta. Pengeluaran paling mahal, menurutnya, adalah cat minyak dan lem kanji. Belum lagi bahan untuk aksesoris tambahan seperti tali rafia utuk rumbai rambut dan bahan untuk mata topeng. imbuhnya.

Source http://m.suarasurabaya.net http://m.suarasurabaya.net/wisata/detail.php?id=4kkcp9ggr49mgqlmrerasu3er6201197789
Comments
Loading...