Kerajinan Topeng Muludan Di Surabaya

0 203

Kerajinan Topeng Muludan Di Surabaya

Tradisi masyarakat Surabaya memakai topeng muludan demi memperingati Hari Maulid Nabi Muhammad SAW mulai terkikis. Rupanya, beberapa anak-anak lebih akrab bermain teknologi canggih seperti gadget ketimbang permainan tradisional berupa topeng berbahan dasar kertas daur ulang tersebut.
Karminto, pengrajin topeng muludan yang tinggal di daerah Girilaya gang 5 Surabaya mengakui hal itu. Ia mengatakan, hanya sedikit pedagang kali lima yang mau menjajakan topeng muludan di kota metropolitan seperti Surabaya. Lantaran tak jarang mereka membawa kembali pulang dagangannya.
Berbeda dengan di pinggiran kota seperti daerah Sidoarjo, Sidotopo, Krian ataupun Mojokerto. Terlihat berjejeran pedagang topeng muludan di sekitar pasar atau pinggir jalan. Mereka menjajakan topeng muludan yang dikulak dari Karminto seharga Rp 8.000 per-topeng, kemudian dijual dengan harga Rp 15 ribu hingga 20 ribu.
Karminto menyebutkan, pasang surut ia melakoni pekerjaan membuat kerajinan topeng muludan bersama istri, Kartining dan ketiga anaknya. Terkadang mereka mampu mencetak dan mewarnai sekitar 50 topeng perhari, mulai dari topeng kecil hingga yang berukuran besar.
Di sisi lain, ada satu hal yang membuat mereka bangga, sebab topeng buatannya tak hanya dipesan pedagang sekitar Jawa Timur, tetapi juga Tarakan, Papua dan luar pulau Jawa lainnya. “Jadi yang pesan ada ya dari luar Jawa,” ucap Kartining disela workshop topeng muludan di Balai Pemuda Surabaya.
Sembari mempraktekan cara mewarnai topeng kepada puluhan peserta workshop, Kartining dan Karminto menyelipkan filosofi tentang tradisi topeng muludan di Jawa. Menurut mitos Jawa, topeng kertas berbentuk hewan ini dipakai berkeliling kampung sambil bershalawat dengan maksud tertentu. Tak lain untuk mengusir setan. Bentuk binatang seperti macan, serigala, kera ataupun tengkorak bukan berarti menakut-nakuti teman, tetapi untuk mengusir segala macam balak di daerah tersebut.
Source http://www.muslimedianews.com http://www.muslimedianews.com/2013/12/tradisi-topeng-mauludan-mulai-terkikis.html
Comments
Loading...