Kerajinan Topi Batik Di Bandung

0 235

Kerajinan Topi Batik Di Bandung

Asep Andian, seorang produsen topi asal Kabupaten Bandung patut dijadikan contoh untuk para entrepeneur pemula. Produk “S12” milik Asep kini sudah diakui di Benua Amerika hingga Afrika. Namun di awal membangun brand, pria tamatan Sekolah Menengah Akhir (SMA) ini harus berhadapan dengan banyak kendala. Terutama soal modal, maklum Asep bukan berasal dari keluarga konglomerat.
“Awalnya saya bekerja di toko kain, upahnya Rp. 10.000 per hari. Jadi buat ongkos saja pas-pasan, apalagi untuk menghidupi keluarga,” ungkap Asep. Ayahnya memang pengrajin topi, namun hanya menerima orderan dari buyer lokal tanpa menjual sendiri. Lantas Asep memiliki ide untuk membuat merek sendiri, dan dipasarkan via mulut ke mulut, pada tahun 2008 lalu.
“Akhirnya topi saya laku, tapi kuantitinya tidak banyak karena kekurangan modal. Saya berani pinjam ke bank awalnya Rp.100 juta, nah dari situ bisa berjalan sampai sekarang omzetnya bisa Rp. 2,5 miliar setiap perputaran,” ungkapnya.
Namun perjuangannya tak sampai disitu, Asep pernah mendapatkan kondisi pahit, setelah terkena tipu oleh buyer yang mengaku dari Thailand.
Tak sekadar mencari rupiah dari bisnisnya ini, Asep pun punya misi mengenalkan kebudayaan Indonesia kepada buyer asing. Tak ayal, dia menciptakan produk dengan tema nusantara, dimana menambahkan aksen batik di topi buatannya.
Jika ingin bersaing di pasar internasional, dia katakan, jangan sampai menggunakan material yang kualitasnya rendah. Kerapian juga menjadi penilaian lain. Dan yang paling utama yaitu harus berani menciptakan model atau desain sendiri. Kini topi buatannya bahkan banyak ditiru oleh produsen lain. Alih-alih marah, justru Asep bangga.
Dia melibatkan warga sekitar Cigondewah untuk proses produksinya. Kini dia membawahi sekitar 300 pegawai tetap maupun lepas untuk menjalankan usahanya. Sekalipun bisa menjual produknya ke luar Indonesia, namun Asep mengaku sama sekali tidak mengerti bahasa asing. “Biarkan produk saya saja yang bicara. Sampai sekarang juga saya belum pernah menjual secara langsung datang ke luar kota atau ke luar negeri, justru mereka yang datang sendiri,” pungkasnya.
Rata-rata topi buatannya dibanderol dengan harga Rp. 100.000 untuk satu buah. Namun jika untuk pembelian satu kodi atau 20 topi dijual Rp.1.000.000.  Jika ingin melihat koleksi produknya secara langsung, bisa datang ke Jalan Mahmud, KP Kumambang, RT.07 RW . 05, Desa Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung.
Source https://www.cendananews.com https://www.cendananews.com/2016/04/raup-untung-dari-bisnis-topi-batik.html
Comments
Loading...