Kerajinan Topi Caping Di Ponorogo

0 93

Kerajinan Topi Caping Di Ponorogo

Meski tampak sederhana, topi caping yang biasanya dipakai petani sebagai topi kerja di ladang membutuhkan proses yang tak mudah. Bahkan, tergolong rumit untuk dapat menyelesaikan satu caping karena melibatkan beberapa orang dalam proses pembuatannya.

Hal tersebut didapati saat kunjungan ke Desa Karanggebang, Kecamatan Jetis, sebagai sentra pembuatan caping di Ponorogo, Jawa Timur.

Setiap warga mempunyai tugas masing-masing saat membuat caping, mulai dari yang bertugas melakukan pemilahan bambu hingga berbentuk lembaran tipis. Ada pula yang bertugas menganyam caping setengah jadi, dan yang meneruskan menganyam hingga caping jadi. Tak hanya sampai di situ, ada pula yang kemudian membuat blengker atau pinggiran caping. Semua dikerjakan secara bergotong royong.


Kepala Dusun, Agus Wiyono menuturkan kegiatan seperti ini memang menjadi tradisi sejak jaman dulu, atau tepatnya sejak tahun 1960-an di mana warga yang berusia lanjut memilih tetap bekerja namun sebagai pengrajin caping.

“Warga ingin tetap beraktivitas meski berada di rumah, tentunya aktivitas yang menghasilkan uang,” tuturnya

Menurutnya, dengan sistem seperti ini warisan leluhur kerajinan caping akan terus terjaga meski kerajinan modern mulai banyak masuk ke Ponorogo.

“Saya yakin ini tidak akan punah, pasti ada penerusnya, karena warga selalu ada yang membuat caping,” katanya.

Salah satu pengrajin caping, Mutiani bertugas memilah batang bambu hingga berbentuk menjadi lembaran tipis. Ia menjual satu batang bambu dengan harga Rp 35 ribu. Dalam satu hari ia mampu memotong satu batang bambu.

“Satu hari satu batang bambu biasanya, nanti langsung saya jual ke warga yang menganyam,” ucapnya.

Sementara itu, Mbah Landep bertugas menganyam caping setengah jadi. Ia membuat ujung caping dengan anyaman setengah jadi.

“Satu hari saya bisa membuat 10 caping, satu caping dijual dengan harga Rp 4 ribu,” katanya.

Tugas selanjutnya, Mbah Jemiah bertugas membuat blengker atau pinggiran caping agar caping lebih tahan lama dan kuat, sekaligus meneruskan anyaman caping setengah jadi.

“Satu hari saya bisa membuat satu caping ukuran kecil, kalau ukuran besar bisa sampai lima hari baru selesai,” ucapnya.

Secara keseluruhan, caping yang dibuat warga Karanggebang, Ponorogo tersebut terdiri dari lima jenis, mulai dari topi, plentis, buyuk, caping kecil dan caping besar. Untuk harga topi dijual Rp 3 ribu, plentis Rp 3 ribu, buyuk Rp 10 ribu dan caping kecil Rp 15 ribu.

“Kami dari 25 pengrajin bisa menghasilkan 500 caping nantinya dijual ke pengepul,” ujarnya.

Sedangkan untuk pemasaran sendiri, karena pangsa pasar Ponorogo kurang baik, akhirnya dijual ke wilayah Blitar dan Tulungagung.

Source https://www.cnnindonesia.com https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20171205205655-282-260369/melihat-proses-panjang-kerajinan-topi-caping-di-ponorogo
Comments
Loading...