Kerajinan Topi Caping Di Pontianak

0 188

Kerajinan Topi Caping Di Pontianak

Usaha kerajinan Topi Caping dipinggiran Sungai Kapuas khususnya di Kelurahan Bansir Laut Kecamatan Pontianak Selatan, Kota Pontianak sudah bisa dikatakan merupakan kerajinan turun temurun yang dilakukan nenek moyang,  sampai saat ini masih tetap dikerjakan oleh generasi ke generasi.

Berbarwarna hijau telur asin sebagai warna identik yang merupakan cirri khas dari kerjinan Topi Caping yang berada dipinggiran Sungai Kapuas ini. Terbukti masih ada sejumlah warga yang menggantungkan pendapatan sehari harinya dengan membuat kerajinan Topi Caping tersebut

Salah satunya pengerajin topi caping  adalah ibu Dewi yang beralamat Jl. Imam Bonjol, Gg Mendawai, Kecamatan Pontianak Selatan. Beliau menceritakan pada awal mulanya menggeluti usalah kerajinan Topi Caping ini semenjak beliau masih remaja dan kemampuan untuk mengerajin Topi Caping ini sudah diturunkan oleh orang tuanya. Beliau juga mengatakan pasang surut usaha kejarinan Topi Caping ini sudah dirasakannya

Tanggapan  warga sekitar tentang keberadaan kerajinan Topi Caping diantaranya adalah Andi seorang pemuda berusia 28 tahun  yang mengungkapkan bahwa dengan adanya usaha kerajinan Topi Caping ini memberikan efek positif  karena di tempat selama ini dia tinggal merupakan salah satu tempat yang masih memegang erat warisan tradisi Luhur Melayu dan sebagai seorang pemuda asli Melayu serta anak pinggiran sungai kapuas haruslah bangga karena kalau bukan kita siapa lagi yang akan melestarikan kerajinan bangsa ini.

Untuk membuat satu Topi Caping tentu banyak proses yang harus dilewati. Diperlukan Daun Bengkuang, Rotan, Tali Rapia, Benang Pelastik, Pelepah Sagu. Pada proses pembuatannya diperlukan waktu 3 hari dari persiapan hingga proses akhir pembuatan Topi Caping tersebut. Proses awal adalah penyiapan Bahan baku daun bengkuang yang masih hijau dengan membung duri disetiap sisinya terlebih dahulu.

Selanjutnya daun dijemur hingga warnanya berubah menjadi kecoklatan. Bila dirasa sudah kering daun bengkuang digulung dan dipotong sesuai ukuran selanjutnya dirajut untuk dijadikan  Topi Caping. Factor bahan baku biasanya menjadi hal penentu dalam pembuatan Topi Caping tersebut. Meluruskan rotan yang masih bergulung agar dapat jadikan bahan dalam pembuatan Topi Caping.

Daun Bengkuang yang berukuran 7-8 meter didatangkan langsung dari Sungai Ambawang dan Rotan yang berasal dari salah satu pulau yang ada di Ketapang menjadi pilihan dan bahan baku untuk membuat karajinan Topi Caping. Kendala dalam proses pembuatan ialah musim hujan sehingga daun menjadi lama kering.

Tenang Kerja dalam proses produksi pembuatan Topi Caping ini tergantung jumlah bahan baku yang didapatkan si pengarajin  dari pengepul. Biasanya dalam satu kali melakulakan  produksi pembuatan Topi Caping, diperlukan  2 sampai 3 orang untuk membantu. Tenaga kerja yang membantu proses pembuatan Topi Caping ini adalah keluarga seperti anak dan sepupu.

Untuk pemasaran sendiri para pengerajin menjualnya kepada pengepul Topi Caping yang siap menampung topi caping yang sudah jadi tersebut. Pengerajin biasanya menjual 1 kodi atau 20 Topi Caping. Harga perkodi bervarisasi. Untuk perkodi Topi Caping berukuran kecil biasanya dijual Rp.120 Ribu — Rp 140 Ribu dan jika ukurannya besar harga topi tersebut berkisar Rp 180 Ribu — Rp 200 Ribu

Kerajinan ini merupakan kerajinan yang tetap eksis walau dimasa modern yang serba internet dan dimasa internet ini juga para pengerajin dapat memanfaatkan segala kemudahan internet untuk mempromosikan hasil kerajinannya kepada siapapun. Pemasaran Topi Caping hingga kini sudah menembus kancah Nasional yaitu Jawa dan sekitarnya tidak hanya itu Topi Caping juga berhasil berada dikancah Internasional yaitu di Negara Malaysia

Source https://www.kompasiana.com https://www.kompasiana.com/aryantamaisyah/5a4b832cdd0fa83641504ec2/usaha-kerajinan-topi-caping-di-kelurahan-bansir-laut
Comments
Loading...