Kerajinan Ukiran Khas Minang Tetap Lestari Di Tanah Datar

0 270

Kerajinan Ukiran Khas Minang Tetap Lestari Di Tanah Datar

Galeri seni di Nagari Pandai Sikek, Tanah Datar, Sumatra Barat, sebuah papan nama bertuliskan “Ukiran Chan Umar” yang ditempelkan di atas pintu masuk. Bengkel ukiran Umar Chan tersebut berdiri sejak tahun 1990 alias berumur sekitar 23 tahun. Pegawainya sekitar delapan orang, tapi saat itu hanya tiga orang yang masuk. “Dulu banyak pengrajin ukiran Minang di Pandai Sikek sini, tapi sekarang tinggal sedikit, salah satunya di bengkel saya ini,” cetus Pak Chan.

Ketika melihat-lihat pajangan piagam di dinding, terdapat sesuatu yang menarik. Salah satu piagam berasal dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, yang saat itu dijabat Jero Wacik. Piagam bertanggal 27 November 2008 tersebut diberikan sebagai penghargaan kepada Pak Chan sebagai seniman senior Indonesia yang merupakan pelestari dan pengembang seni ukir khas minangkabau. Ada juga foto saat Pak Chan menerima penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pak Chan juga mendapat penghargaan Semen Padang UKM Award 2012. Wah, ternyata Pak Chan ini memang istimewa.

Ukiran Pak Chan cukup tersohor di wilayah Sumatra Barat, apalagi Pandai Sikek memang dikenal sebagai salah satu sentra kain songket dan ukiran Minang yang biasa diguakan untuk hiasan rumah gadang. Bahkan pemesan ukiran Pak Chan adea yang berasal dari mancanegara, salah satunya Austria. Harga ukiran Minang milik Chan Umar cukup tinggi, karena tingkat kesulitannya juga tinggi. Menurut Pak Chan, lama waktu pembuatan tergantung dari kerumitan motif dan jumlah pegawai yang mengerjakan. Untuk satu meter persegi, ukiran minangkabau khas Pak Chan dibanderol hingga Rp 1,5 juta. “Untuk sebuah rumah gadang, biaya untuk ukiran hiasannya saja bisa tembus Rp 150 juta. Memang mahal sekali,” tukas Pak Chan.

Menurut informasi dari berbagai sumber, kerajinan ukir dan songket di Pandai Sikek sudah ada sejak zaman dulu hingga era kolonial Belanda. Denyut nadi dua kerajinan khas Tanah Datar itu sempat terhenti pada masa pendudukan Jepang dan terus berlanjut hingga 1960-an. Setelah itu perlahan pengrajin ukiran dan songket menggeliat lagi. Namun di tengah gempuran modernitas, kesetiaan warga sana untuk menggeluti usaha ukiran minang dan songket juga terkikis. Saat ini tak banyak yang bertahan. Hanya sedikit yang setia melestarikan seni ukiran Minang, salah satunya Pak Chan. Diperkirakan ada sekitar 200 motif ukiran khas Minang, tapi hanya sekitar 20 persen yang kerap dipakai. Kayu yang dipergunakan adalah surian, yang banyak terdapat di hutan Sumatra Barat.

Banyak industri yang kolaps dihantam badai krisis ekonomi 1998. Bagaimana nasib bengkel ukir Chan Umar saat itu? Konon, menurut Pak Chan krisis ekonomi tak terlalu memengaruhi usaha karena dia membuat ukiran sesuai dengan orderan yang masuk. Alhasil, tak ada stok yang menumpuk maupun ukiran yang tak laku dijual. Hal itu membuatnya terhindar dari risiko mengalami kerugian besar. Buktinya bengkel ukiran Umar Chan tetap bertahan sampai sekarang.

Source https://usemayjourney.wordpress.com https://usemayjourney.wordpress.com/2013/07/02/chan-umar-pelestari-ukiran-minang-2/
Comments
Loading...