Kerajinan Unik dari Kelapa Tua Di Kebumen

0 279

Kerajinan Unik dari Kelapa Tua Di Kebumen

Adalah tangan terampil Aryo Sugito, seorang pria kelahiran Kebumen yang telah lama menetap di Lampung yang menciptakan kerajinan tangan tersebut dan memajangnya di lapaknya. Aryo sudah berada di Kebumen sejak dua bulan yang lalu dalam rangka mengunjungi keluarganya sekaligus napak tilas di kota tempat ia dibesarkan. Selain itu dia juga mencoba mengenalkan kerajinan buatannya pada masyarakat Kebumen dengan cara membuka lapak di sudut alun-alun, Jalan Pahlawan, Bumirejo, Kec. Kebumen, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Di Lampung sehari-harinya Aryo juga membuat kerajinan dari buah kelapa. Kelapa-kelapa tua tersebut dibelinya dari para pedagang seharga Rp 1000 perbutir. Buah kelapa tua seperti itu seringkali hanya akan menjadi kayu bakar bagi industri pembuatan genteng, tetapi dengan berbekal alat berupa pisau dan sikat kawat, Aryo mencoba mengubahnya menjadi benda-benda kerajinan yang bernilai jual tinggi seperti asbak dan berbagai ornamen lainnya.

Pisau ia gunakan untuk mengukir pola pada buah kelapa, sedangkan sikat kawat digunakannya untuk finishing. Asbak berbentuk binatang itu ia jual seharga Rp 25.000 sampai Rp 50.000 tergantung ukuran, begitu juga dengan hiasan berbentuk kepala. Pembeli juga bisa memesan bentuk apa saja sesuai keinginan, dan Aryo akan langsung membuatkannya di tempat dan bisa ditunggu.

Selain membuat kerajinan dari buah kelapa, ayah tujuh anak ini juga berkreasi dengan akar bambu dan pelepah pisang. Serabut-serabut pada akar bambu yang cukup besar itu dipahatnya sedemikian rupa sehingga membentuk wajah lelaki berjenggot, yang dijualnya Rp 150.000 sampai Rp 300.000. Untuk lukisan dari pelepah pisang ia hargai Rp 500.000 tanpa pigura dan RP 800.000 jika lengkap dengan kaca dan piguranya.

Menurut pemaparannya, di antara benda kerajinan hasil karyanya tersebut asbak dari buah kelapa adalah yang paling banyak diminati. Di daerah tempat tinggalnya di Lampung, Aryo mengaku seringkali kehabisan stok jika pembeli sedang ramai. Sementara untuk lukisan pelepah pisang dan topeng dari bambu cenderung lama lakunya. Apalagi bahan baku berupa akar bambu itu tidak bisa ia dapatkan setiap hari karena harus memilah akar bambu yang benar-benar utuh dan berukuran besar.

Selama dua bulan berada di Kebumen ini, hasil kreasinya telah laku beberapa kali, termasuk lukisan dari pelepah pisangnya. Namun pembelinya rata-rata berasal dari luar Kebumen, yaitu mereka yang berasal dari Jakarta dan kota besar lainnya yang kebetulan sedang berkunjung ke Kebumen. Aryo juga mengakui bahwa dibandingkan di Lampung, minat beli masyarakat Kebumen akan benda kerajinan masih tergolong rendah. Menurutnya hal itu disebabkan oleh desakan kebutuhan lain yang lebih penting. Selain itu dia juga menceritakan bahwa beberapa produknya telah sampai ke mancanegara meskipun bukan dia sendiri yang menjualnya secara langsung. Hal itu membuatnya berkeyakinan bahwa sesungguhnya industri kreatif semacam ini bisa sangat potensial asal pemerintah menjembatani.

Aryo memang tidak akan lama di Kebumen, rencananya dia akan kembali ke Lampung sehabis lebaran. Tetapi juga tidak menutup kemungkinan bahwa suatu hari ia akan tinggal di Kebumen, sebab sesungguhnya ia juga punya cita-cita untuk membuka semacam sanggar tempat membina remaja atau siapa saja yang tidak punya bekal keterampilan agar memiliki kemampuan untuk menciptakan karya yang bernilai jual, dan mimpi itu ingin ia wujudkan di mana saja asal ada kesempatan, termasuk jika suatu hari peluang itu terbuka di kota kelahirannya di Kebumen.

Source https://uudnhudana.wordpress.com https://uudnhudana.wordpress.com/2014/06/30/kelapa-tua-yang-bersalin-rupa/
Comments
Loading...