Kerajinan Wayang Di Bantul

0 275

Kerajinan Wayang Di Bantul

Siapa tak tahu kesenian wayang. Hasil peradaban dan kebudayaan asli Indonesia ini sudah ada sejak berabad-abad lalu. Dahulu, pagelaran wayang kerap digunakan sebagai media penyebaran agama dan pendidikan moral lewat karakter masing-masing tokoh dalam cerita yang dibawakan oleh dalang.

Sayangnya, kini peminat kesenian wayang perlahan semakin berkurang. Di tengah upaya giat pemerintah dalam mengembalikan pamor serta apresiasi masyarakat terhadap kesenian wayang, ada satu nama yang turut berjuang secara militan lewat upaya keras yang mungkin tak banyak diketahui. Yakni Subur, warga Dusun Dengkeng, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Provinsi DIY.

Prihatin dengan semakin merosotnya antusias masyarakat terhadap kesenian wayang, khususnya lagi generasi muda, ia rela menjelajah berbagai kota lintas provinsi untuk menjual kerajinan wayang kulit dan kardus hasil karya warga Bantul dan Kabupaten Wonogiri.

Tiga belas tahun sudah profesi melelahkan ini ia lakoni. Tercatat, kota di sepanjang pantura Jawa pernah ia singgahi. Termasuk Kabupaten Temanggung.

“Saya menjual wayang di berbagai daerah. Kalau belum dapat hasil ya terpaksa nginep dengan menyewa lapak lapak milik pedagang pasar atau terminal, yang penting bisa untuk istirahat,” ungkapnya.

Wayang yang ia tawarkan antara lain dengan karakter Punokawan, Pandawa Lima, Ramayana, Gunungan, serta hiasan dinding berbahan dasar kulit kambing. Untuk harga, ia membanderol Rp 25.000 sampai Rp 50.000 untuk wayang berbahan kertas dan Rp 60.000 sampai Rp 1 juta untuk wayang dari kulit dengan kombinasi cempurit asal tanduk kerbau.

Tidak setiap hari barang dagangannya laku, maksimal ia hanya bisa menjual 10 sampai 15 buah kepada para pembeli yang disinggahi. Subur membeberkan, bukan tanpa alasan ia memilih profesi ini. Selain istrinya, Sumarsih, memang terkenal sebagai penatah wayang ulung di Bantul, sejak kecil ia telah berkecimpung dalam keluarga yang menggantungkan bisnis pada wayang kulit. Termasuk kakeknya, Alm Hardjo Prawiro.

Namun, yang menjadi keprihatinan dirinya saat ini bukan masalah sepinya pembeli. Namun rendahnya minat generasi muda untuk mempelajari filosofi karakter wayang yang sangat mendidik.

Hal ini terjadi sejak era tahun 1990, saat televisi mulai menjamur di kalangan masyarakat. Belum lagi perkembangan tayangan sinetron yang justru kurang mendidik.

Source https://jateng.merdeka.com https://jateng.merdeka.com/seni/ini-cerita-subur-13-tahun-keliling-lintas-provinsi-jual-wayang-kulit-170403i.html
Comments
Loading...