Kerajinan Wayang Karton Di Yogyakarta

0 511

Kerajinan Wayang Karton Di Yogyakarta

Tertib Suratmo, merupakan salah satu pembuat wayang dengan bahan dari karton di Yogyakarta. Pembuatan wayang menggunakan bahan karton tak lazim dilakukan di Yogyakarta. Biasanya, wayang dibuat menggunakan bahan dari kulit kambing maupun kulit sapi.

Kecintaan pria berumur 76 tahun itu terhadap tontonan wayang membuat warga Dipowinatan, Keparakan, Mergangsan, Yogyakarta mengantarkannya untuk menekuni pembuatan wayang. Suratmo mulai membuat wayang karton seusai dirinya pensiun sebagai pustakawan berstatus pegawai negeri sipil (PNS) di SMP 16 Kota Yogyakarta.

“Usai pensiun saya sempat bingung mau ngapain. Soalnya biasanya kerja, begitu pensiun bingung tidak ada pekerjaan. Akhirnya saya mengisi waktu dengan membuat wayang dari karton,” ujarnya.
Awalnya, Suratmo hanya membuat wayang dari bahan karton untuk koleksi pribadinya saja. Berbekal pendidikannya di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) dan pernah mengikuti kursus menyungging (mewarnai) di Kraton Yogyakarta pada tahun 1965, Suratmo pun memberanikan diri untuk membuat wayang.

“Kenapa tidak wayang kulit, ya pertama karena saya tidak punya modal. Selain itu kan perlu belajar lagi kalau wayang asli, karena tidak asal pembuatannya,” ungkap Suratmo.

Tertib menceritakan proses membuat wayang dari kertas karton diawali dengan membuat sketsa karakter tokoh di kertas karton. Kemudian wayang tersebut ditatah sesuai dengan sketsa tersebut. Selanjutnya, wayang yang sudah berbentuk karakter disungging atau diberi warna agar muncul karakter pembawaaan wayang tersebut.

Selain membuat wayang dengan karakter sesuai dengan pakem pewayangan, Suratmo juga melayani pembuatan wayang berdasarkan pesanan. Wayang pesanan khusus ini biasanya memerlukan lebih banyak keahlian untuk membuatnya.

“Kalau wayang yang biasa paling enggak butuh tiga hari untuk membuatnya. Sedangkan kalau wayang pesanan atau ada orang yang mau membuat wayang mirip dengan wayang aslinya bisa lebih lama lagi pembuatannya. Karena pengerjaannya lebih mendetail,” ucap Suratmo. Di usianya yang sudah hampir berkepala delapan ini, Suratmo sering mengalami kesulitan dalam membuat wayang karton. Selain membuat wayang karton sendirian tanpa ada yang membantu, Suratmo juga kesulitan karena pandangan matanya sudah tak sebaik saat masih berusia muda.

“Idealnya dikerjakan dua sampai tiga orang. Kalau semangat masih membara, tetapi tenaga dan stamina saya tinggal 50 persen, tidak seperti dulu. Pandangan mata juga jauh berkurang, jadi harus pelan-pelan,” tutur Suratmo.

Saat ini wayang karton bikinan Suratmo tak hanya dibeli dan dikoleksi oleh pembeli lokal dari Yogyakarta dan sekitarnya saja. Wayang karton Suratmo pun digemari oleh oleh penikmat seni dari mancanegara seperti Ceko dan Kanada.

“Harga wayang karton bikinan saya ini saya jual untuk wayang yang berukuran besar seharga Rp 150 ribu. Sedangkan yang kecil sekitar Rp 35 ribu,” pungkas Suratmo.

Source https://www.merdeka.com https://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-tertib-suratmo-pengrajin-wayang-karton.html
Comments
Loading...