Kerajinan Wayang Kertas Di Magelang

0 374

Kerajinan Wayang Kertas Di Magelang

Sukoco, pria kelahiran Magelangini,  tak menyangka coretan gambar wayang dalam kertas karton menarik perhatian turis mancanegara. Semula ia hanya iseng dan tak berniat menjual hasil karyanya itu. “Justru pengunjung  tertarik membelinya,” kata Sukoco di rumahnya, Dusun Sangen, Desa Candirejo, RT 1 RW 8, Borobudur, Magelang.

Sukoco merupakan pengrajin wayang kertas, nama yang disematkan orang atas karyanya. Wayang ini unik karena tetap kokoh walau hanya terbuat dari kertas karton yang dipoles cat minyak.  Wayang cocok dipajang sebagai hiasan dinding.

Ia belajar otodidak. Sejak kelas 3 SD, Sukoco mulai menggambar tokoh wayang di kertas manila. Kesukaannya pada tokoh wayang diilhami cerita dari ayahnya, Sumopawiro, sesepuh desa yang sering menceritakan wayang. Sukoco mulai membuat wayang kulit ketika SMA. Bahannya dari kulit kerbau. Namun Sukoco terbentur modal. Akhirnya ia membuat wayang kertas.

Tokoh-tokoh wayang yang dibuat Sukoco sudah puluhan. Punokawan (Semar, Gareng, Petruk, Bagong), Arjuna, Bima, Baladewa, Kumbokarno, dan Anoman masuk dalam daftar tokoh itu. Semua tokoh wayang selalu memiliki karakter. “Seperti Nakula Sadewo berkarakter cerdas. Ia bisa melihat masa depan,” kata dia.

Sukoco saat ini lebih banyak membuat tokoh wayang pria ketimbang wanita. Tak alasan khusus. Hanya saja ia ingin menuntaskan seluruh karakter kuat tokoh wayang pria. Menariknya Punokawan banyak diminati turis Belanda dan Perancis serta pembeli lokal. Selain lucu dan menarik, turis terkesima oleh karakter punokawan yang berbeda-beda.

Sukoco perlu waktu 4-5 pekan dalam membuat wayang kertas. “Tergantung tokohnya. Tokoh-tokoh raja seperti Kresna, Baladewa, Duryudana, serta Dasamuka lebih sulit ketimbang lainnya,” dia menambahkan.

Alat-alat yang dibutuhkan cukup sederhana yakni cat minyak, kertas karton, dan tatah. Kertas dipotong sesuai bentuk wayang lalu diwarnai (nyungging). Dikeringkan dan dipernis terlebih dahulu supaya halus dan indah. Menurut Sukoco, wayang kertas hanya membutuhkan ketrampilan serta ketelitian. Soal bentuk wayang memang harus sesuai tokohnya. Namun untuk warna, ia seringkali berkreasi untuk memadukan komposisi warna yang tepat. “Yang penting warnanya tidak jauh dari karakter aslinya,” katanya.

Sukoco mulai berniat mejual wayang kertas sejak 2011. Semula wayang-wayang kertasnya hanya pajangan rumahnya sebagai pemuas hobi. Meski punya rencana, Sukoco belum memiliki gerai wayang kertas. Turis serta pengunjung seringkali tertarik melihat dan mempelajari cara pembuatannya.  Bila pesanan membludak pun, ia sering kualahan. Tenaga pengerjaannya hanya dia sendiri.

Wayang kertas ini dijual dengan harga Rp35-40 ribu. Bila pengunjung ingin memesan dengan pigura harganya Rp 200 ribu. Meski tidak ada pesanan, Sukoco tetap akan membuatnya. Wayang kertas sudah bagian dari hidupnya.

Source https://travel.tempo.co https://travel.tempo.co/read/493955/melirik-wayang-kertas-borobudur
Comments
Loading...