Kerajinan Wayang Kulit Di Malang

0 524

Kerajinan Wayang Kulit Di Malang

Kesenian dan budaya adalah identitas suatu bangsa. Telah diketahui jika Indonesia memiliki berbagai kesenian dan kebudayaan yang tak terhitung nilainya. Salah satunya adalah kesenian wayang kulit. Memang wayang kulit memliki era dan masanya. Namun, sangat sayangkan jika kesenian tersebut tidak diminati generasi muda saat ini, meski tidak semuanya.

Itulah sepenggal cerita pembuka dari Wiji, yang bertempat tinggal di Jalan Gondomono, Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen. Ia adalah salah satu perajin wayang kulit yang mengeluhkan generasi muda karena acuh kepada kesenian dan budaya warisan Indonesia. Terlebih tidak banyak lagi ditemui perajin wayang kulit yang masih eksis dan produktif berkarya. Tentunya hal tersebut tidak terlepas dari berbagai faktor yang melatar belakanginya.

“Memang dari keluarga ada darah seni yang mengalir. Buyut saya dulu adalah perajin wayang kulit yang sangat terampil dan menghasilkan banyak karya,” ujar Wiji dengan menyibukkan dirinya mengerjakan wayang yang belum selesai.

Ayah satu anak ini semakin menjadi-jadi dalam mengasah keterampilannya setelah mentas dari SMA. Media kerajinan yang awalnya kertas digantinya dengan kulit. Itu karena saking seringnya Wiji bermain ke tempat perajin wayang yang ada di Blitar. “Saking banyaknya bermain ke perajin wayang kulit. Awalnya hanya melihat, kemudian timbul kemauan untuk mempraktikan di rumah. Mumpung ada alat peninggalan buyut,” kenangnya.

Semakin hari semakin menjadi, itulah yang tertuang dari karya kerajinan wayang kulit laki-laki kelahiran 14 april 1972 ini. Pesanan dari pecinta wayang semakin banyak menghampirinya. Selain itu di tahun 90-an tanggapan wayang juga ramai. Hal tersebut membuat kedua tangan Wiji menghasilkan banyak karya.

Setelah bercerita banyak tentang kejayaan para perajin wayang sebuah kalimat yang membalikkan keadaan diucapkan dari bibirnya. Setelah kata itu yang memiliki arti suram itu ia memulai bercerita lagi. “Kini zaman telah berbalik, saya kembali membuat kerajinan wayang kertas,” tuturnya.

Menurutnya, profesi sebagai perajin wayang kulit tidak bisa dijadikan sebagai pekerjaan utama. Karena saat ini generasi muda telah bergeser kecintaanya dengan sesuatu yang baru. Beberapa faktor itu, lanjut Wiji, mau tidak mau kita juga harus kompromi. Namun, kompromi baginya adalah tidak menyerah begitu saja. Meski pesanan wayang kulit tidak lagi bisa diandalkan, ia masih tetap berkarya namun dengan media kertas atau kembali seperti awalnya.

“Karena hanya beberapa saja yang benar-benar cinta akan wayang kulit. Saya beralih ke media kertas agar tetap bisa berkarya. Dengan begitu setidaknya melalui mainan wayang kulit kertas akan ada generasi muda yang mulai mencintai warisan budayanya dan mau belajar keseniannya,” harap Wiji.

Kini selain bekerja di salah satu pabrik kertas di Kabupaten Malang, ia memanfaatkan waktu luangnya dengan tetap megerjakan kerajinan wayang kertas yang dijualnya sendiri saat ada gelaran wayang sewaktu-waktu. Dalam sebulan ia bisa membuat 50 karya wayang kertas, dengan harga jual mulai dari Rp 20 ribu hingga Rp 100 ribu. Tergantung dengan ukuran, tingkat kesulitan pembuatan dan tokoh pewayangan yang dibuat.

Dengan keadaan saat ini, Wji mengakui semua perjuangan yang dilakukan memang harus fleksibel agar roda perekonomian bisa tetap berputar. Ia sendiri juga tidak bisa memaksakan anak lelaki satu-satunya agar meneruskan profesinya. “Karena setiap anak belum tentu akan menuruni bakat ayahnya. Namun kita bisa mengajarkan betapa pentingnya budaya yang dimiliki Indonesia. Setidaknya generasi muda mengerti jika ada warasan berharga yang dimilikinya,” pungkasnya.

Source https://www.malang-post.com https://www.malang-post.com/berita/malang-raya/pertahankan-kerajinan-wayang-melalui-media-kertas
Comments
Loading...