Kerajinan Wayang Kulit Kontemporer Di Trenggalek

0 148

Kerajinan Wayang Kulit Kontemporer Di Trenggalek

Kisah dalam pertunjukan wayang kulit tidak hanya terbatas pada Ramayana dan Mahabarata, berbagai karakter yang diadopsi dari zaman modern terkadang juga disisipkan. Itu yang dilakukan seniman wayang dalang sebagai pemanis pertunjukan.

Ruang inilah yang dimanfaatkan seorang seniman asal Trenggalek untuk membuat wayang karakter dari bahan mika dan karet talang. Dengan cekatan tangan Anom Trio Setiawan, warga Desa Kedungsigit, Kecamatan Karangan Trenggalek menggoreskan pensil di atas kertas karton, ini merupakan salah satu tahap awal yang harus ia lakukan untuk membuat berbagai wayang karakter.

Wayang karya Anom tidak hanya terbatas pada bentuk dan tokoh klasik seperti Arjuna, Krisna maupun para tokoh Mahabarata lainnya, namun ia justru mengambil tema-tema yang lebih modern yang diambil dari kehidupan yang tengah berkembang.

“Ada banyak tokoh-tokoh yang dimunculkan, misalkan karakter remaja saat ini, kemudian ada juga karakter warga desa, kemudian kalau ramai politik saat ini juga ada yang pesan wayang berbentuk calon gubernur. Tapi kalau yang itu kemarin sudah diambil pemesan,” kata Anom.

Pemesan wayang kontemporer tersebut cukup banyak, mulai dari wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah hingga luar Jawa. Rata-rata pemesan wayang kreasinya adalah para dalang wayang kulit.

“Wayang-wayang modern ini biasanya digunakan untuk pertunjukan wayang kulit, sebagai sisipan,” imbuhnya.

Proses pembuatan satu buah wayang krakter modern tersebut membutuhkan waktu dua hari. Sedangkan bahan yang digunakan dalam pembuatan benda seni ini, Anom memilih memanfaatkan mika serta karet talang air.

“Ini sebagai alternatif, karena kalau kulit prosesnya lebih lama dan mahal, selain itu wayang modern seperti ini selalu ‘update’ atau sering berubah mengikuti perkembangan zaman, sehingga kegunaannya tidak terlalu lama,” jelas Anom.

Remaja yang menggeluti kerajinan wayang sejak tahun 2000an ini mengaku, dalam pembuatan wayang kontemporer berbahan mika dan karet talang, dibutuhkan beberapa tahap. Mulai dari pembuatan sketsa, proses transfer ke bahan baku, pemotongan hingga pengecatan.

“Kalau untuk yang bahan mika itu lebih simpel, sedangkan untuk karet talang sedikit lebih rumit. Namun kalau sudah jadi semuanya hampir mirip dengan wayang kulit pada umumnya,” kata remaja asli Trenggalek ini.

Satu buah wayang karakter berbahan mika biasanya ia jual ke konsumen mulai dari harga Rp150 ribu. Sedangkan wayang berbahan karet dijual mulai dari Rp200 ribu ke atas tergantung dari bentuk dan tingkat kerumitannya.

“Saya bisa membuat wayang itu karena terbiasa membantu ayah sejak masih SD, kebetulan beliau adalah pengraji wayang juga. Awalnya itu hanya wayang kulit klasih saja, kemudian sejak tahun 2000an itu saya mencoba membuat karakter lain dan banyak yang minat,” jelasnya.

Sementara itu ayah Anom, Poniran menjelaskan, wayang berkarakter masa kiniseringkali ditampilkan dalam pertunjukan wayang kulit. Namun keluarnya tokoh modern hanya sebagai pemanis di saat limbukan.

“Biasanya tokoh-tokoh modern ini akan muncul pada saat jeda limbukan, untuk guyonan, Karena kalau hanya klasik saja terkaang kurang menarik perhatian penonton,” kata pengrajin wayang sekaligus dalang ini.

Source https://news.detik.com https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3923804/kreasi-seniman-wayang-kulit-kontemporer-trenggalek-pesanan-dalang
Comments
Loading...