Kerajinan Wayang Suket Di Purbalingga

0 291

Kerajinan Wayang Suket Di Purbalingga

Produk kerajinan Wayang Suket atau Wayang Rumput asal Desa Wlahar, Kecamatan Rembang, Purbalingga, Jawa Tengah, banyak diburu dan dibeli oleh para kolektor wayang asing seperti Jerman, Belanda dan Jepang.

Bahkan wayang suket asal Purbalingga ini telah menjelajah hingga ke Amerika Serikat untuk mengikuti pameran National Day of Puppetry di California, Amerika Serikat, akhir April lalu.

“Saya tidak tahu wayang apa saja yang dipamerkan di sana. Saya hanya mengirimkan tokoh Arjuna dan Kresna,” kata Badriyanto perajin wayang suket. Menurut dia, seni keterampilan membuat wayang suket ini, telah ditekuni sejak tahun 1995 melalui almarhum kakeknya.

“Saya belajar dari kakek, Mbah Kasan Wikrama, yang biasa dipanggil dengan sebutan Mbah Gepuk. Awalnya, saya membutuhkan waktu lebih dari seminggu untuk menyelesaikan sebuah wayang. Namun sekarang hanya tiga hari untuk wayang berukuran kecil dan empat sampai lima hari untuk ukuran standar,” katanya.

Namun ia mengakui hingga saat ini dirinya masih belum bisa membuat sosok wayang Batara Guru karena memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi.


“Batara Guru memiliki banyak tangan dan bagian bawahnya terdapat bentuk semacam binatang. Saya sampai sekarang belum bisa membuatnya sehingga selalu menolak jika ada yang pesan tokoh ini,” jelasnya.

Tingkat kesulitan dan kerumitan dalam membuat wayang suket ini membuat sedikit orang yang mampu mempunyai keterampilan ini. Di Purbalingga hanya Badriyanto dan Aksanudin yang mampu membuat wayang suket. Hal itu tidak semua tokoh wayang yang dapat dibuat oleh mereka.

“Masih jarang pemuda yang menguasai pembuatan wayang suket, di sini hanya 2 orang yang bisa,” kata Aksanudin Guru SMA Rembang. Ia memasukkan kerajinan membuat wayang suket ke dalam kurikulum di SMA Rembang sebagai seni ria lokal. Hal ini karena jarangnya pemuda yang dapat meneruskan seni kerajinan ini.

“Saya pernah membongkar wayang itu. Anyamannya rumit, karena harus menganyam sambil membentuk,” jelasnya.

Untuk membuat wayang suket ini juga sangat unik, karena menggunakan bahan dari rumput liar yang dinamakan rumput kasuran yang biasa tumbuh hanya bulan suro. “Rumput ini lebih lentur, 50-70 cm. Biasa dipakai makanan ternak juga, untuk membuat wayang yang dipakai itu batangnya,” ujarnya.

Menurut dia, hingga saat ini pun dirinya masih belum paham kenapa rumput kasuran ini hanya ada dibulan suro. “Ini yang saya tidak tahu dan harus dikaji lagi, kenapa bisa begitu, itu banyaknya kalau dibulan suro. Ini rumput liar, pernah dibudidayakan tapi tidak bisa sesubur saat bulan suro nya,” tambahnya

Dia mengungkapkan setelah rumput kasuran dipanen lalu rumput tersebut dikeringkan dengan dijemur. Untuk membentuknya harus direndam 1,5 jam agar lemas dan dibuat hanya dengan menggunakan alat seperti gunting, palu dan tusuk (alat untuk menganyam wayang). Wayang suket ini sendiri mampu bertahan hingga 20 tahun.

“Wayang yang terbuat dari rumput kasuran ini dijual dengan harga Rp 250.000 hingga Rp 450.000 per buah. Sementara jika satu set tokoh Pandawa Lima atau satu set tokoh Punakawan dijual dengan harga Rp 1,7 juta,” ungkapnya.

Source https://finance.detik.com https://finance.detik.com/solusiukm/1931939/wayang-suket-made-in-purbalingga-diburu-kolektor-asing
Comments
Loading...